Purna Tugas Bukan Purna Kerja

Sosok inspiratif kali ini datang dari seorang senior leader kami di kantor. Tiba-tiba sekonyong-konyong tersiar kabar dirinya mengambil pensiun dini: keluar dari zona nyaman dan terjun bebas di area/bidang yang sudah sejak lama ia cita-citakan. Mengabdi pada umat.

Tidak gampang bagi seorang karyawan dapat diloloskan pengajuan Pensiun Dini (Pendi) oleh manajemen perusahaan kami di tengah kondisi perusahaan yang cukup sehat dan terus tumbuh, apalagi beliau–senior leader saya ini, sudah menduduki jabatan yang sangat strategis di level management, setingkat di bawah Vice President, dan selain itu ia memegang amanah besar mengelola sebuah entitas dakwah bernama Majelis Ta’lim yang sudah go-nasional, menjadi sub system sekaligus mitra HCM perusahaan kami dalam misi employee character building dan menghidupkan corporate culture management berbasis spiritualitas. Sebuah wild card baginya untuk bisa menaiki jenjang yang lebih tinggi dan tetap bisa berkontribusi maksimal kepada banyak orang melalui lembaga-lembaga yang menjadi mitra dari entitas dakwah yang kami miliki tersebut.

Tapi begitulah sosok ini, yang kemudian berkisah pada kami di sore itu dalam ramah tamah informalnya. Ternyata ia sudah mempersiapkannya beberapa tahun sebelumnya. Pengkondisian dan rancangan sudah dibuat jauh-jauh sebelum “lowongan” pendi dibuka oleh manajemen. Terencana, terstruktur dan by design. 

Ada cita-cita yang jauh lebih besar yang dapat saya tangkap dari tuturnya yang sederhana namun kuat berbobot. Dan kami yang berada di ruangan tersebut tak layak tuk mencegah apalagi menyesalinya, selain doa dan harapan yang terbaik bagi keputusan besarnya: “berhenti” dari pekerjaan dan amanahnya di titik puncak, pada posisi terbaiknya, untuk dapat meloncat dan meraih kontribusi yang jauh lebih besar dan tinggi.

Setelah obrolan sore yang menginspirasi itu, saya mencoba mensintesa sebuah sketchnote sederhana seperti di bawah ini:

Teringat pula tulisan lawas: “Retirement, Beginning The New Life?”  dan “Framework of Happiness”

 

note16_01

Dalam coretan sketchnote di atas, saya coba mulai dari tangga kebutuhan Maslow sebagai metode mendefinisikan kebutuhan yang selama ini membuat sebagian masa muda dan bugar kita habiskan. 

Jenjang kebutuhan-kebutuhan yang ketika dapat terpenuhi satu per satu maka kebahagiaan yang kita cari dapat dikecap dan meresap. Saat kita berhasil memenuhi satu tangga kebutuhan maka selanjutnya ia menuntut kita untuk naik kelas dan naik level berikutnya dan berikutnya.

Berbahagialah yang tidak perlu lama bisa meraih “puncak kebahagiaan” melalui pemenuhan tangga kebutuhan Maslow tersebut tanpa harus menanti dan menunggu kondisi fisik uzur dan kian renta. 

Sungguh berbahagialah seseorang yang bisa dalam waktu singkat menemukan definisi bahagia melalui kesadaran tentang “purpose of life”, tentang tujuan hidupnya untuk apa dan ke arah mana. 

Apalagi konon framework of happiness yang sejati menghadirkan bahagia dalam waktu panjang dan permanen adalah ketika kita bisa meraih dan melakukan sesuatu dalam rangka mewujudkan the higher purpose, sebuah tujuan besar, visi dan misi besar “memberi manfaat” kepada banyak orang, tentang “melakukan sesuatu” bukan lagi untuk “saya” semata. 

Bicara soal pensiun, masa pensiun yang seperti apa yang hendak kita lalui? Cukupkah dengan kesiapan materi, lalu secure and save begitu saja? Yakin? šŸ™„šŸ˜€

Sementara hidup hingga masa tua pun belum tentu kita capai. Bisa saja ajal lebih dulu datang menghampiri? Lalu kapan kita benar-benar ā€œmenikmati hidupā€ dalam artian sebenar-benarnya hidup mewujudkan visi dan misi mulia kehidupan ini?

Mungkin barangsiapa yang mulai memikirkan kehidupan di masa tua yang nyaman, penuh cita, cinta, dan waktu untuk saling berbagi, menebar manfaat bagi banyak orang, sudah harus mulai mengubah pola hidup dan mind set masa kininya. Karena tidak ada jaminan kita sampai pada fase itu.

Pensiun atau purna tugas yang sejati hendaknya kita maknai ketika ruh dan jasad sejenak kan berpisah. Maka sebelum masa itu tiba, buatlah grand design terbaik untuk hidup kita. Makin beranjak umur kita makin sedikit sisa waktu kita, maka harus kian memacu kita mempersembahkan prestasi terbaik. Hidup kita harus memiliki kurva eksponensial, yang berhenti di saat puncak. Di saat terbaik!

Mengapa tidak kita wujudkan “pensiun” kita mulai sejak sekarang?

Hendak jadi seperti apa kita kelak, mulailah dari sekarangā€¦

ā€œThe best way to predict the future is to prepare and create it.ā€

Jangan hanya risaukan tentang uang dan harta, serta properti yang tersisa di masa tua atau purna tugas, pikirkanlah lebih soal generasi yang akan kita tinggalkan nanti; soal memaknai hidup “untuk apa” dan hendak kemana serta “bagaimana akhirnya.”

Apa-apa yang akan kita tuai, dan panen di masa depan adalah apa yang kita tanam, semai dan tumbuhkan sejak sekarangā€¦

Bukan soal diri kita yang kelak pasti renta dan uzur tak berdayaā€¦tetapi pada apa yang bisa kita tinggalkan, kita berikan dan persembahkan dalam sejengkal kehidupan yang singkat ini.

–Takzim selalu dari yang miskin ilmu lagi kurang adab ini–

Selamat purna tugas mas Fathoni, semoga Allah pertemukan kita kembali di medan juang yang sama nanti. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s