3 Framework of Happiness

image

Kantor tercinta saat ini sedang hangat-hangatnya menjalankan serangkaian kegiatan training motivasi “Spiritual@Work”, a journey from Money to Meaning.

SUKSESMULIA jadi jargon yang begitu populer dan menginspirasi, tentu siapa lagi kalau bukan Kubik Leadership yang punya gawe atas titah dari tim People Development kantor tercinta(h). Takzim buat gurunda @Jamil_Azzaini.

Menurut gurunda saya yang punya segudang epos itu, bahagia adalah saat seseorang bisa mengisi kehidupannya dengan meraih sukses yang ditandai dengan harta, tahta, kata dan cinta yang dapat memberi manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang, dan itulah makna hidup mulia. Keduanya menjadi satu rangkaian yang tidak bisa dipisah. SuksesMulia!

Dari situ saya jadi ingat sebuah petuah dari Tony Hsieh, CEO Zappos tentang kebahagiaan. Yup sebuah kata yang begitu beragam tafsir, beraneka definisi. Masing-masing orang dengan berbagai latar belakang, cara pandang serta wawasan yang tidak sama akan memiliki versi tersendiri tentang arti bahagia.

Menurut Pak Tony, bahagia itu ada 3 tahap atau 3 katagori. Di tahap entry point, bahagia diperoleh melalui rasa memiliki. Dalam bahasa Gurunda Jamil, dalam konsep manusia-nya; motivasi dipengaruhi dengan unsur To Have. Kebahagiaan di fase ini sifatnya short term menurut Pak Tony. Bahagia bisa segera hadir tapi dalam tempo yang singkat segera sirna dan berganti pada tingkat keinginan yang lebih lagi. Kita kemudian meningkatkan keinginan to have pada jenjang berikutnya. Dalam kadar yang jauh melampaui batas, makna “bahagia” disini bisa jadi bencana. Karena kita jadi seperti minum air laut. Makin diminum makin haus, makin dituruti makin tak akan habis-habisnya.

Awalnya seneng banget punya mobil CRV baru. Bahagia tak terperi. Bisa ajak anak istri keliling kota hingga ke Binaria. Sebulan kemudian akhirnya bosan dan mulai lirik mobil pak boss yang lebih okeh: syukuri Alphard yang ada, konon katanya. Bahagia memiliki CRV berubah derita ingin punya Alphard. Hehe. 😜

Maka jika ukuran bahagia kita hanya di to have, hati-hati kawan, pada jebakan hedonic treatmill.

Masih menurut pak Tony lagi, framework happiness selanjutnya bisa dicapai mana kala orang bisa melakukan hal-hal yang menjadi hobi, passion, dan kesukaannya.

Seseorang yang passion nya jalan-jalan, menikmati keindahan alam– meski susah, sulit, lelah dan bahkan mengeluarkan biaya yang tak sedikit bin murah, tetapi orang bisa menggapai makna “bahagia” nan suka cita.

Dalam teori uncle Maslow sumbu keinginan atau need hyrarchy nya sudah mulai menuju ke puncak ekosistem, yaitu self esteem dan aktualisasi diri. Di fase ini bahagia akan hadir dalam spektrum yang lebih lama dan cenderung langgeng. Orang akan bahagia karena ia mencapai titik pertemuan antara performance dan engagement, ya kira-kira dalam konsep gurunda Jamil Azzaini dia adalah “to Be”. Orang akan jadi sangat menikmati kondisi “flow” saat bisa meraih predikat “menjadi.”

Pada tahap ini bahagia hanya berfokus pada diri sendiri. Seperti layaknya seseorang yang kelebihan hormon endorphine, dia akan fly, eforia dan merasakan kecanduan. Tapi apakah cukup sampai di sini? Ternyata tidak. Pada akhirnya kebahagiaannya juga perlahan bisa berkurang kadarnya.

Maka fase berikutnya tentang bahagia adalah mencapai definisi MULIA kata gurunda Jamil, sementara Pak Tony menyebutkannya sebagai to have higher purpose;  sebuah tujuan besar yang melampaui dirinya. Sebuah upaya menghadirkan manfaat bagi seseorang diluar pribadinya sendiri. Memberi, memampukan, dan membantu orang lain meraih kebahagiaan adalah cara yang lebih ultimate dalam mewujudkan kebahagiaan. Begitulah tentang SuksesMulia.

Jadi, menurut Gurunda Jamil Azzaini dan juga Pak Tony Hsieh, bahagia sejati itu bisa hadir secara langgeng ketika kita bisa menjadi perantara orang dapat meraih kebahagiaan.

Kata nabi, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi banyak orang.

Tabik!

Advertisements

One thought on “3 Framework of Happiness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s