“Ngobrol” Dengan Orang “Asing”

image

Sepekan pertama bekerja di Jakarta beberapa waktu yang lalu membuat saya sangat mengandalkan jasa “ojek on(-line) demand”. Ke kantor, dan pulang kembali ke rumah atau sekedar memenuhi hajat makan, ojek on-line ini benar-benar jadi solusi. Alasannya praktis, relatif murah, dan tentu sangat membantu bagi orang awam nan buta soal seluk beluk jalan ibukota yang super duper macet ini. Beda dengan Jayapura atau Singkawang tempat saya tinggal sebelumnya. (:) haha…)

Setiap pergi selalu mendapatkan tukang ojek yang berbeda. Beda karakter, beda penampilan dan tentu beda gaya mengendarai. Sangking seringnya saya gonta-ganti ojek, hampir saja saya bisa memetakan dan melakukan profiling tipikal seluruh orang di Jakarta ini, uhui! (Lebay sikit!)

Ada yang pendiam, ada yang straight to the point, ada yang sok kenal sok dekat dengan guyonannya yang kadang garing, ada juga yang suka modus. Bilang nggak ada kembalian padahal berharap tips. 🙂

Dari obrol-obrolan ala kadarnya untuk menghilangkan kantuk di jalan, saya bisa dapat banyak info dan bertukar pengalaman tentang banyak hal. Selain tentu profiling tukang ojek sebagai satu sampel dalam mempelajari karakter orang Jakarta. Dari obrolan ala kadarnya itu, saya juga dapat insight yang beraneka ragam.

Jadi ngobrol dengan orang tak dikenal itu kadang-kadang memang bisa memberikan sudut pandang berbeda dan wawasan yang bisa memperkaya pengalaman. It is a Creative way!   Kalau kata Aa Gym, setiap orang adalah guru bagi kita. Tempat kita bisa belajar dan “bercermin.”

Begitulah salah satu alasan mengapa kantor-kantor modern dan bergaya smart office menempatkan tempat makan sebagai ruang besar berkumpulnya semua karyawan tanpa membedakan dari unit mana dan departemen apa, atau bahkan seorang CEO sekalipun, semua bisa berbaur saling berinteraksi. Meja makan memang bisa menjadi tempat bertemunya segala kepentingan, bukan?

Team work bisa terwujud jika adanya collaboration and synergy . Dan Collaboration bisa dilakukan jika ada conversation dan communication.

Jadi, ide kafetaria atau ruang makan besar bersama adalah cara manajemen men”ciptakan” kondisi untuk bisa saling kolaborasi satu dengan yang lain tanpa ada batasan. Dengan sering mempertemukan berbagai latar belakang unit dan posisi di dalam satu ruangan besar diharapkan peluang “meet” dan “conversation”-nya menjadi lebih besar.

Bagaimana menurut anda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s