Peradaban Batu

Idea note_20150417_090455_01

Zaman boleh saja terus berubah, dan teknologi menjadi panglimanya. Namun zaman batu ternyata tidak bisa hilang begitu saja. Bahkan kini kita memasuki zaman batu gaya baru yang cukup fenomenal.

Negara Peradaban Batu

Nusantara dikenal sebagai zamrud Khatulistiwa. Idiom agung sejak dahulu untuk menunjukkan keindahan tanah pusaka ratusan suku bangsa yang mendiami ribuan pulau dari Sabang hingga ke Merauke ini. Dan zamrud  adalah nama salah satu jenis batu akik hijau serupa giok yang indah.

Maka coba juga perhatian peninggalan sejarah yang menunjukkan keagungan cita rasa seni dan teknologi peradaban nenek moyang negeri ini, lagi-lagi susunan batu berpundan, bertingkat, dengan aneka reliefnya yang disebut sebagai candi adalah salah satunya. Semua kebesaran dan kehebatan budaya adi luhung nenek moyang kita ternyata berasal dari batu.

Kemudian, menjejaklah anda ke tanah Papua, di sana batu menjadi bagian dari ritual adat antar suku untuk perdamaian dan pesta kegembiraan hingga kini, Masak Batu!

Teringat pula bagaimana batu-batu juga menjadi kekuatan besar yang mengantarkan perguliran rezim, terlempar dari tangan-tangan orang yang terprovokasi dan mengamuk, menjarah dan menghadirkan kerusuhan yang menelan korban. Sejarah mencatat, batu mengambil peranan. Dan rezim pun berganti.

Saat ikan asin dan tempe goreng kurang lengkap tanpa sambel terasi, maka disitulah batu juga berperan. Karena lumatan cabai berpadu dengan tomat dan bawang tidak cocok kalau di campur aduk menggunakan blender, alat buah hasil dari teknologi; karena ulekan batu cobek lebih afdol dan nikmat!

Batu adalah kita!

kicauan-paling-populer-seputar-akik-selasa-233-grafik-akik-di-multi-platform-20771_l

Dan kini batu akik telah mencuri perhatian banyak kalangan. Baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Heboh batu akik menjamur di seluruh negeri. Batu mulia ini menjadi bahan pembicaraan yang tidak kenal waktu dan tidak lihat tempat. Batu bacan, batu Garut, batu Sungai Dareh, batu Kalimaya, atau batu Giok Aceh adalah segelintir nama yang semakin sering dibicarakan, bahkan dikejar-kejar ke seluruh penjuru nusantara.  Harganya merentang dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Konon bahkan, ada juga yang dihargai hingga miliaran rupiah. Luar biasa!

Apapun yang sudah masuk pada jenjang level kebutuhan self esteem dan self actualization, maka harga mahal atau murah itu sudah tidak ada lagi. Jadi setelah kebutuhan primer terpenuhi, maka segmen sosial ekonomi ini mulai mengalihkan pendapatan berlebih (discretionary income) untuk fungsi lain. Fungsi sosial dan komunitas! Dan bisa jadi fungsi investasi, meski semahal apapun batu akik tetap saja ia tidak bisa digadaikan. 🙂

Gemstone as Social Connector

Batu akik kini bukan lagi sekedar hobby, melainkan jadi social connector; penghubung sosial antar satu dengan yang lain. Batu akik telah mampu menyatukan dan memadukan segmen kelas menengah yang well educated dan knowledgeable bisa cair bersama dengan segmen kelas mana pun untuk asik membahas soal perbatuan. Batu akik dengan segala keindahannya, beserta cerita yang melatarinya hingga mitos dan epik yang melingkupi menjadi bumbu penyedap riuh ramainya orang berburu batu.

Batu akik kini telah menjadi common interest bagi semua kalangan!

Kelas menengah penggemar batu akik hadir di hampir semua medium dan  melakukan “conversation” di dalamnya. Batu akik jadi bahan pembicaraan ketika bertemu dengan sesama rekan dan kolega. Dan terjadi juga arah sebaliknya. Semula tidak suka dan tidak memiliki minat terhadap batu, bisa jadi kini ikut jadi penggila batu.

Bahkan kini batu akik juga menjadi brand ambassador bagi sebuah tempat, daerah dan lokasi tertentu. Ia menjadi semacam buah tangan khas yang unik dan tak lekang di makan zaman. Dengan faktor 4C-nya (Colour, Carat, Cut dan Clarity) batu akik kini terus menjadi buruan dan pembicaraan yang tak kenal habis.

Tentu kemudian jadi kian menarik, bagaimana fenomena batu akik ini kemudian bisa menjadi bahan diskusi di bidang bisnis dan marketing. Bagaimana mengelola sebuah produk menjadi common interest dan social connector sehingga begitu seksi untuk didiskusikan, diperdebatkan dan mengundang keingintahuan yang dalam.

Seorang advocate buyer memang kadangkala tidak lagi rasional dalam membeli sebuah produk dengan brand tertentu, karena yang dibeli bukan saja produknya semata, namun lebih mengarah pada kebutuhan social acceptability dan personal identity, apalagi jika sampai menyentuh aspek primordialisme, etnosentrisme, atau bahkan nation pride.

Bagaimana menurut Anda?  🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s