Tangga Kebutuhan yang Mana?

Dear Guys! ūüôā

Tulisan kali ini akan sedikit membahas terkait tingkat kebutuhan atau tangga kebutuhan yang tidak bisa kita lepaskan dalam kehidupan (profesional) kita. Dan bisa saja, dari tangga-tangga inilah yang mampu menumbuhkan motivasi internal kita dalam menunaikan aktivitas bernama: BEKERJA.

Hyrarchy of Need

Dalam kapasitas diri, setiap individu akan selalu memiliki kebutuhan. Kebutuhan itu kemudian disusun oleh Abraham Maslow dalam tangga kebutuhan yang sering kita pelajari di bangku sekolah.

Semua kebutuhan akan berawal dari kebutuhan pokok yang terkait  fisik-jasmani, lalu naik ke level berikutnya: Safety (keamanan) dan kenyamanan , kemudian beranjaklah kita pada jenjang berikutnya, yaitu: Love and Belonging, lalu Self Esteem dan kebutuhan pada level puncak adalah: Self Actualization. 

Dalam dunia kerja, seorang karyawan pada awalnya bekerja dalam rangka agar dapat memenuhi kebutuhan dasar sebagai individu. Mulai dari tangga dasar hingga ke puncaknya sebagai bagian dari¬†Self Actualization.¬†Namun jika kita hendak membedah secara parsial, kita dapati bahwa seorang karyawan atau pegawai di tempat kerjanya akan membutuhkan rasa dan kondisi: “To Be Respected” –> “To Learn & grow” –> “To Be ¬†an ‘Insider’ “ –> ¬†“To Do Meaningful Work” –> “To Be On A Winning Team”.

Dari jenjang-jenjang kebutuhan itu, kita bisa sadari bahwa ternyata memang (benar), ¬†tidak selalu karena “uang” atau GAJI BESAR, seorang karyawan itu bisa tetap loyal dan total terhadap perusahaan atau institusi dimana ia kini bekerja.

Mengapa seseorang bisa menghabiskan berjam-jam dan hampir separuh hidupnya di sebuah perusahaan atau sebuah institusi? Bisa jadi karena ia mendapatkan pengakuan dan kesempatan untuk tumbuh berkembang, dan pada akhirnya menjadi “bagian inti” dari sebuah entitas yang bisa menghadirkan “meaningful work” dan “to be on a winning team”. Ada kata kunci, yaitu: “Meaningful Work” then “meaningful life”.

Ini sejalan tentu dengan tangga-tangga kebutuhan dasar individu yang dirumuskan oleh Om Abraham Maslow di atas, yaitu pada aspek self esteem dan self actualization.

Dari tangga tersebut, tentu para penentu kebijakan yang mengelola hal-hal yang terkait dengan manusia, human resource, diharapkan¬†bisa membedah dan mengasah semua instrumen¬†yang dimilikinya untuk dapat¬†menciptakan ekosistem yang positif dan dinamis di dalam tubuh perusahaan atau institusi sehingga pada akhirnya tercipta kondisi: “Sustainable Growth”, yang disebabkan oleh¬†¬†terwujudnya ¬†kondisi¬†“employee engagement” secara alamiah.

Tidak sampai disitu, mari kita pantengi satu lagi tangga kebutuhan yang lain. (Sumber: Carroll 1996).

Dalam aspek membangun loyalitas dan totalitas lebih lanjut, dan agar sebuah brand dan atau sebuah korporasi/institusi dapat terus build to last,  ada tangga kebutuhan yang perlu ditapaki satu demi satu.

Sebuah perusahaan besar hendaknya tidak hanya berfikir soal “be profitable” saja. Karena kalau hanya berkutat di sini, berarti perusahaan tersebut masih di level bawah ūüôā . Ada kebutuhan yang¬†pada akhirnya menuntut sebuah¬†¬†tanggung jawab:¬†“philanthropic Responsibilities”,¬†be a good corporate citizen,¬†yang diawali dari pemenuhan kebutuhan di sisi¬†legal formal (obey the law).¬†Setelah dapat memenuhi kebutuhan di sisi legal/aturan, manajemen¬†perusahaan kemudian diharapkan bisa menjawab kebutuhan perusahaan dalam memenuhi aspek¬†kaidah, etika dan tanggung jawab terhadap norma yang berlaku.¬†Dalam bahasa lain kita mengenal dengan sebutan GCG,¬†Good Corporate Government. Pada jenjang yang paling tinggi tentu God Corporate Government. Sebuah perusahaan yang menjalankan sifat-sifat mulia dengan berpegang pada nilai-nilai spiritual.

Seperti yang diungkap Subiakto, seorang Brand Builder senior, Brand adalah ikatan emosi antara produk atau jasa anda dengan konsumen, titik kritisnya terletak pada penciptakan NILAI. Dan NILAI ini bukan sekedar soal financial performance.

Nah, setelah kita sama-sama mengulas tentang 3 tangga kebutuhan tersebut, maka persoalannya kini, sudah berada pada layer/lapis ke berapakah kita? Lapis bawah? lapis tengah atau sudah sampai puncak??

Tetap Semangat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s