The Working Dead

99 ideas for happy worker: Zombie, The Working Dead
99 ideas for happy worker: Zombie, The Working Dead

Adakah terpikir bahwa perlahan kita sudah serupa zombie?

Pergi pagi, pulang pagi malam berulang terus setiap hari, 08-17 bagai mesin yang terprogram “looping until the end.” Oh tidak juga ya? Alhamdulillah… kalau begitu. Hehe. ūüôā

Mari sejenak kita duduk di tepi jalanan. Tatapi satu persatu orang yang lalu lalang itu. Begitu sibuk berlari-lari mengejar minibus, commuter line atau pun kendaraan umum lainnya untuk segera bisa on board bekerja di kantor tercinta. Wajah tegang, atau acuh tak acuh sibuk dengan gadget masing-masing. Tak lupa menempel earphone di lubang telinga melingkar kabelnya hingga ke balik saku atau tas jinjing bermerek. Tak lupa sepatu kulit dan kemeja body fit yang tampak begitu necis. Tampan-tampan dan cantik-cantik. Tak lupa parfum yang¬†fresh¬†dan¬†hmmm…¬†tentu untuk mengimbangi aroma apek di kendaraan-kendaraan umum yang lapuk nan lusuh berkalang debu jalanan kota besar. Oh.. oh…

Bagaimana dengan di kota kecil dan di pelosok? Mungkin sama saja. Tampilannya bisa berbeda namun situasi tekanan, rutinitas dan pola berulangnya bisa jadi sama.

Berjuang Untuk Apa? Untuk Siapa?

Mungkin itu pertanyaan yang patut kita dengungkan kembali. Apalagi kalau kerja-kerja-kerja itu cuma sekedar agar rekening penuh dan kemudian isinya berpindah ke pos-pos pemuas lapar mata. Mengisi deretan ego diri dan kebutuhan sosialita yang artificial belaka. Kemudian terjerat pada¬†jebakan tagihan cicilan, mahalnya biaya “gaya hidup” dan mulai kehilangan etika, idealisme serta nurani. Antara halal dan haram sudah sulit membedakannya. Yang ada di dalam isi kepala hanyalah angka-angka… dan angka lagi.

Terjerat  Memiliki cicilan sih boleh saja, apalagi memang bagian investasi misal, asalkan kita tahu bagaimana meloloskan diri dan menyiasatinya.

Persoalannya adalah manakala jebakan itu telah mengubah cara pandang kita tentang “mengapa kita harus bekerja.”

Setiap orang memiliki alasannya tersendiri dalam beramal, seperti antara Rahwana dan Kumbakarna dalam epos Ramayana itu. Mereka memang berada di kubu yang sama. Sama-sama “bekerja” (melawan Rama dan Wibisana), namun toh keduanya memiliki alasan dan motivasi yang jauh sangat berbeda. Dan itu yang membedakan nilai antara keduanya. Begitu pun kita. Pergi-pulang kerja; apa sesungguhnya yang sedang kita cari, karena apa, dan untuk apa?

Advertisements

2 thoughts on “The Working Dead

  1. Seperti sebuah sindiran. Working Dead (dari film Walking Dead). Sungguhkah suasana para pekerja di Indonesia seperti itu? Apakah kita bak zombie yang berjalan di antara gedung-gedung pencakar langit yang berjalan tanpa “nyawa”? Entahlah. Barangkali ada sedikit hati nurani saya yang mengatakan itu benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s