Ikan Sarden

image

Pernah mungkin dan bahkan kerap kali saat pergi ke kantor anda mengalami hal yang sama seperti ilustrasi di atas? Ah… maaf kawan jika kali ini aku menyinggungmu. 😌

Sardenes are packed in cans to earn money, while some of us pay to be packed like sardines

Para kaum pekerja ibukota dengan segenap fasilitas hidupnya itu toh nyatanya tetap menghadapi persoalan yang tak kalah pelik dibanding para pekerja di daerah-daerah terpencil.

Masing-masing memang memiliki tantangannya sendiri.

Maka syukur itu memang kunci pembuka pintu nikmat. Sekiranya kita selalu mengeluh, alih-alih derita hilang atau berkurang, justru rasa tentram akan sirna entah kemana.

Syukuri alpard yang ada, pajero adalah anugerah….

Atas apa yang payah dan berat terasa kita lakukan, yakini bahwa inilah pintu amal kita untuk mengisi kehidupan.

Seringkali bekerja itu menyisakan sakit dan perih.. (apalagi kalau sering di PHP-in naik gaji atau double bonus 🙄 #eaaa.) Tapi yakinlah lebih sakit dan perih lagi jika kita tidak bekerja dan tidak memiliki pekerjaan.

Ada petikan indah dari seorang guru tercinta saya di Bandung dulu, semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat baginya. Saya coba tuliskan kembali petikan nasehatnya, dengan sedikit modifikasi.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggal mati.

Maka amat keliru jika bekerja dimaknai sebagai jalan mencari rezeki semata melalui perbuatan kita. Karena bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rezeki itu urusan-Nya.

Kita bekerja tuk bersyukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat. Tapi rezeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita; Allah taruh sekehendak-Nya. Seringkali memang karena kerja-kerja-kerja kita. Lain waktu justru datangnya seperti sebuah keajaiban.

Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwah; tapi Zam-zam justru terbit di kaki bayinya?

Bekerja itu ikhtiarnya, ia adalah laku perbuatan. Sedangkan rezeki itu kadangkala seperti kejutan.

Ia kejutan tuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga. Tugas kita adalah menempuh jalan halal.

Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita meminta dan Allah memberi karunia; jaga sikap saat menjemputnya & jawab soalan-Nya, “Buat apa?”

Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia; lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab dan yang haramnya akan diadzab.

Banyak yang mencampakkan keikhlasan amal demi tambahan harta, plus dibumbui kata tuk bantu sesama; lupa bahwa ‘ibadah’ apapun semata atas pertolongan-Nya.

Dengan itu kita mohon agar setiap tetes keringat dan jengkal langkah kita tercatat ikhlas kepada-Nya sebagai tanda bakti dan ibadah hanya untuk Allah semata…

Maka meski esok dan lusa kita akan selalu bagai ikan sarden di kaleng, yang tergencet dan penyet. Lalu saat di kantor selalu disikut dari kanan dan kiri, disundul dari bawah, diinjak dari atas, ditikam dari belakang(ih, kejamnya)— mudah-mudahan jauh dari kondisi hiperbolis di atas; kita bisa senantiasa sadar kenapa kita harus bekerja, dan kemana harta, rezeki yang diterima itu dibelanjakan?

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s