99 Ideas For Happy Worker: People Development Vs Self Branding ?

Idea note_20140815_111607_01

Seringkali dalam dunia kerja, kita temui banyak talenta-talenta nan berbakat pada bidang-bidang tertentu tidak mendapat ruang yang tepat dan panggung yang pas?

Akhirnya bakat, potensi dan kemampuannya itu jadi terasa tidak memberi dampak baik dan luas pada organisasi dan entitas dimana ia bekerja. Padahal sebenarnya dia adalah Hi-Po (high potencial) dan bisa menjadi Hi-Per (high performance)….

Salah siapa?

Atau seringkali seseorang merasa jengah dan jenuh karena berada di suatu tempat dan posisi tanpa ada sentuhan manajemen untuk rotasi, mutasi dan promosi, padahal sudah bertahun dan menahun ia menanti dengan sabar pada posisinya. Keep working in silent. Syukur-syukur kalau ia bisa tetap konsisten nan persistence… Kalau tidak? Yang bersangkutan bisa menjadi demo(tivasi) dan kemudian lo-per (low performance).

Nah looh… 

Salah siapa?

Dalam sebuah organisasi perusahaan kecil, menengah maupun besar sekalipun–apalagi untuk sebuah perusahaan yang masuk jajaran idaman mertua 🙂 ; maka people/employee development system adalah sebuah perangkat alat lengkap yang bisa mendeteksi, menganalisa dan mendefinisikan secara mikroskopis maupun makroskopis tentang bagaimana mengelola sumber daya manusianya sehingga bisa menjamin perusahaan menjadi terus tumbuh berkembang.

Saat kita bicara soal people development system maka kita sebenarnya sedang membicarakan tentang pengelolaan, perencanaan, pergerakan karir (baca: karir dalam spektrum sempit, di dalam perusahaan/kantor),  kepangkatan dan jabatan, penilaian kinerja, pengembangan dan pelatihan serta strukturisasi organ dalam perusahaan yang melibatkan hak dan kewajiban yang saling terhubung, saling silang dan terkait satu sama lain.

Sebuah perusahaan yang baik tentu harusnya memiliki blue print dan peta jalan yang detail dan sistematis terkait soal people development system di atas. Sehingga kita bisa perkecil potensi dimana orang-orang dengan high performance, dan atau high potency hilang dari peredaran dan atau tenggelam dalam kondisi yang tak menentu.

Bagaimana dengan perusahaan atau entitas bisnis tempat anda bekerja?

Bersamaan dengan itu, mari kita juga ukur sejauh mana diri kita telah mengelola self-branding kita.

Di tengah kondisi kompetisi yang serba crowded, mash, dan teeming maka kita memang perlu sedikit lebih cerdas.

Di sini kita perlu belajar secara seimbang bagaimana kerja nyata sejalan dengan panggung pencitraan yang ingin dibangun agar seseorang bisa dikenal dan diketahui “keberadaannya” (eksistensinya). Amal baik tidak selalu harus disembunyikan, apalagi prestasi baik.

Seringkali kita sibuk bekerja dalam sunyi namun lupa bagaimana kerja-kerja kita itu mampu “terdengar” dan menciptakan resonansinya. Bukankah dahulu Nabi sering menanyakan amalan-amalan sahabatnya dalam forum terbuka? dan dari itu kemudian para sahabat saling berlomba-lomba dalam kebaikan?

Idea note_20140812_015214_02

Work hard in silence, let your success (Story) be your NOISE!

Nah, tinggal bagaimana cara menciptakan “noise” itu agar resonansinya indah dan terdengar manis?

……

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s