99 Ideas for Happy Worker: Volunteering

Lihatlah, para penjaga pintu gerbang/portal jalan tol, bapak dan ibu polisi pengatur lalu lintas, juga polisi penjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, atau tentara di tapal batas negeri menjaga kedaulatan, atau pun tenaga medis 24/7 dan teknisi perusahaan listrik yang hanya satu-satunya di negeri ini, juga teknisi perusahaan air, supir taksi, supir travel dan bis, pramugari, pilot pesawat dan…… ehm…  pekerja swasta di perusahaan operator telepon. #ups! serta selusin pekerjaan-pekerjaan lain yang memiliki tanggung jawab pada pengelolaan hajat hidup/kebutuhan dasar orang banyak.

Tentu anda akan merasa kasihan pada sosok-sosok pekerja yang luar biasa itu, di saat yang lain berkumpul bersama keluarga, dan bisa melupakan beban penat dan tanggung jawab pekerjaan yang melelahkan sejenak; sambil menikmati kehangatan, kebersamaan dan kenyamanan serta kebahagiaan dalam keumuman parade masa yang langka nan berharga, bernama mudik di hari raya!

Tapi mohon jangan letakkan pandangan iba anda pada mereka selalu.

Ucapkanlah terimakasih dan salut pada mereka, dan lebih penting lagi adalah doakan kebaikan bagi mereka dalam sepi dan sunyi disaat mereka sendiri tidak sadar, bahwa ada mata-mata kita yang memperhatikan mereka. Doakan agar mereka ikhlas sehingga jiwa kedermawanan serta kepahlawanannya itu kelak memberikan keberkahan bagi banyak orang disekitarnya. Bukan hanya bagi dirinya!

image

Cuti (work off) adalah hak semua orang, namun tentu pada kondisi-kondisi khusus dan spesial, orang-orang dalam level dan tanggung jawab tertentu terpaksa disediakan pilihan yang tidak mengenakkan. Dilarang cuti, atau diberlakukan penundaan cuti untuk sementara waktu.

Asalkan hal tersebut tidak terjadi terus menerus, berulang dan lalu menjadi sebuah ketentuan yang justru merusak sistem pendelagasian tugas maupun struktur hirarki organisasi yang sudah berjalan sehat. Jangan pula membuat buddy system yang ada tampak percuma lagi sia-sia.

Jika tidak ada ketua, maka ada wakil ketua, ada sekretaris, ada koordinator dan seterusnya. Bagai sebuah jenjang hirarki keprajuritan, tunas-tunas baru layaknya muncul menggantikan bonggol batang yang tua. Begitulah sistem organisasi berjalan. Di saat general manager tidak ada, tentu masih ada pelaksana tugas general manager yang bisa ditunjuk sesuai mekanisme, dan seterusnya.

Ah sudahlah,… yang penting cuti di masa-masa genting bukanlah “dosa” karyawan di perusahaan jasa urusan vital masyarakat tersebut. Sah saja, apalagi dengan teknologi “smart” semua tetap bisa terhubung dan berkoordinasi, meski jasad terpisah jarak dan waktu, suara, hati dan pikiran masih bisa bertaut dengan gelombang teknologi telekomunikasi yang ada. #ciee.  Meminjam istilah dalam Islam, bisa dibilang kewajiban “tidak cuti” itu sifatnya fardhu kifayah. Jjika sudah ada yang melakukannya maka tidak menjadi kewajiban bagi tiap-tiap Pribadi/semuanya.

Kembali ke masalah volunteering yang menjadi pokok bahasan.

Ternyata saat karyawan yang harus menerima tugas “kepahlawanannya” lalu ia menganggap hal tersebut sebagai sebuah upaya yang sejalan dengan cara dirinya untuk “helping to make their community a better place”, “helping the others”, dan sebagai sarana “enriches their sense of purpose of life” maka yakinlah bekerja di masa-masa genting nan penting dan ditempat sulit sekalipun akan menciptakan perasaan lebih bahagia karena merasa bisa memberikan sesuatu yang berharga, lalu kebahagiaan tersebut bisa mengantarkan pada perasaan lebih sehat, lebih bergairah, dan lebih bermakna. Coba saja… 🙂

Doing good is good for you.

Idea note_20140806_164410_01

Sudah saatnya kita meletakkan revenue bukan sebagai satu-satunya tolak ukur “kemenangan” reputasi bisnis perusahaan. Apalagi sebagai satu-satunya parameter business performance.

Reputasi sebuah entitas bisnis harus mulai kita coba bangun dari lini yang berbeda pula. Dimana kata kunci “volunteer” di atas mendapatkan ruang yang terbaiknya.

Sikap dan semangat volunteer ini bisa dihadirkan dalam sebuah program yang kita biasa sebut sebagai CSR (corporate social responsibility).

Buah awal dari CSR ini adalah consumer support dan employee engagement. Mengapa karyawan menjadi makin loyal pada perusahaan yang kian memperbesar fokus segmen CSR-nya? karena mereka merasa saat bekerja bukan saja untuk dirinya dalam tataran limpahan materi, namun karena ada relevansinya pada semesta hidup. Mengapa timbul consumer support? karena produk yang mereka pilih bukan saja memberikan kualitas prima dan layanan yang baik, namun juga memiliki sisi-sisi nilai kemanusiaan, kebangsaan dan kebaikan.

Lebih konkrit lagi bukan sekedar donasi yang hit and run, tetapi harus berkesinambungan dan mampu mendorong karyawan saat bekerja bisa menemukan sendi-sendi kepahlawanannya, bahwa apa yang dilakukannya bukan semata untuk mengejar uang, mencapai target (baca: revenue) tetapi lebih dari itu: sebuah nilai kebaikan bagi lingkungan, bagi komunitas dan bagi masyarakat luas, yang (semoga) memiliki arti bukan saja di dunia namun (juga) kekal hingga ke akhirat.

Wallahu’alam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s