99 Ideas for Happy Worker: 24/7 vs 8/5

image

24/7 adalah istilah yang populer digunakan sebagai sebuah pola kerja/aktivitas selama 24 jam dalam rentang 7 hari. Ada juga istilah 8/5, yang artinya 8 jam dalam rentang 5 hari.

Ada clock in ada clock out?
Bagaimana bagi yang punya skema 24/7? Clock in dan clock out nya kapan?

Kalau kita mengambil teori umum tentang 4 klasifikasi cash flow quadrant ala Robert T. Kiyosaki maka akan kita dapati 4 segmen: employee, self employee, business owner dan investor. Keempat segmen ini memiliki karakter dan sifat yang khas, baik dari sisi waktu bekerja, resiko sampai dengan nilai cash-return atau income-nya.

Persoalannya adalah masuk kategori mana para karyawan atau employee yang bekerjanya 24/7? Business owner bukan, self employee juga bukan….

Dalam dunia industri produksi barang/manufacturing/mining dan jasa layanan publik vital seperti air, listrik, telekomunikasi, transportasi, dan kesehatan harus mampu menjalankan fungsi produksi dan service nya sepanjang tahun, 24 jam dalam 7 hari hingga bahkan 366 hari jika masuk ke dalam tahun kabisat perhitungan kalender masehi, semua harus “jalan” non stop.

Dalam ketentuan ketenagakerjaan para employee yang bekerja di industri yang memaksa keberlangsungan mesin produksi non stop 24/7 kemudian diatur agar tidak mengalami eksploitasi manusia atas manusia. Ini masalah serius.

Di negara-negara maju setiap pekerja hanya diperkenankan bekerja sekama 48 jam dalam sepekan. Jika ada yang melebih itu mereka dimasukkan ke dalam kategori khusus yang kemudian pengukuran waktu kerjanya dikelola dengan model shifting, seperti para offshore (pekerja lepas pantai) dengan pola yang beragam. Hingga total karyawan bekerja dalam hitungan jam adalah 17-26 pekan dalam setahun. Angka ini kemudian dibuat pola on-off yang membuat karyawan tetap bisa menjalani kehidupan normalnya.

Namun yang terjadi di lapangan, di negara kita ini sering kali seorang karyawan “terpaksa” harus bekerja 24/7, dimana private life dan working life menjadi baur, blended dan tanpa jeda-tanpa batas. Always on, always connected.

Lembur yang sifatnya opsional, kemudian menjadi “harus” dan wajib. Bahkan ada jabatan yang tidak memiliki hak untuk mengklaim lembur/overtime, mungkin karena sudah ada tunjuangan jabatan, meski nilainya jauh dari angka kompensasi lembur yang bisa dikumpulkan.

Di tengah ketidakjelasan aturan ini, para pekerja 24/7 memang perlu memperluas jiwa volunteer-nya. Selain itu tentu manajemen harus mampu menerapkan fleksibelitas waktu sebagai cara untuk memberi ruang bagi para karyawan 24/7 ini untuk memenuhi hak-hak tubuh, hak keluarga dan hak personal/private life-nya.

Menemukan tangga kebutuhan tertinggi kita pada pekerjaan yang sesuai-sejalan-seiring dengan the purpose of life (tujuan hidup) adalah salah satu cara kita agar dapat membangun totalitas dan loyalitas dalam bekerja, meskipun himpitan dan tekanan beban pekerjaan mendorong kita menjadi orang yang harus siap siaga 24/7.

Pesan @Haikal_hassan
Pesan @Haikal_hassan

tetap semangaat!

🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s