99 Ideas for Happy Worker: SELFIE-Fever

 

Image

Aktifitas memotret diri sendiri (self-portrait) secara mandiri tanpa bantuan orang lain kini memang menjadi tren, apalagi kebutuhan aktualisasi diri ini kini kian menemukan muaranya melalui berbagai media sosial yang ada.

Dulu orang mencoba melakukan selfie (istilah yang kemudian populer untuk menyebut aktifitas memotret diri secara mandiri) ini dengan memaksimalkan front camera pada smartphone atau tetap dengan back camera namun sambil memanfaatkan bidang cermin datar yang bisa memantulkan potret diri.

Belakangan kemudian kita mengenal ada tool yang disebut tongsis, alias tongkat narsis. Tongkat monopod untuk camera digital dan smartphone ini kemudian makin populer dan laku keras di pasaran setelah banyak tokoh-tokoh besar dunia juga terjangkit demam selfie ini. Termasuk melalui media sosial milik ibu negara kita. Setelah itu istilah tongsis kian populer. Ada creative sales yang kemudian menjadi faktor produk yang sebenarnya bukan baru menjadi seakan-akan re-born dan menemukan target pasar yang begitu seksi.

Seperti pada acara ulang tahun perusahaan kami kemarin, disediakan 1000 tongsis bagi peserta undangan yang hadir diawal waktu selama persediaan ada. Akhirnya hampir semua orang yang hadir dalam perhelatan itu sibuk ber-tongsis ria. Luar biasa!

Idea note_20140511_224811_01

 

Pada aktivitas selfie kita bisa menyaksikan pada setiap diri kita ini memang ada kecenderungan untuk selalu bisa memenuhi kebutuhan “Self respect”. Sekecil apapun. Setiap orang memiliki kebutuhan untuk dihargai dan diterima serta diakui keberadaannya dalam sebuah pola hubungan interaksi sosial. Lalu kemudian kita kenal istilah narsis. Nama yang diambil dari tokoh mitologi Eropa Kuno yang kemudian mati menceburkan diri ke dalam telaga karena terlampau mengagumi dan mencintai diri sendiri, mencintai pantulan diri sendiri. Berharap bisa berpadu dengan bayangan semu nan tak nyata. Ini kisah cinta tragis memang… 🙂

Dari tren selfie kemudian muncul tongsis, dimana kita bisa narsis secara berjamaah ini, ada suatu hal yang bisa kita pelajari.

Sifat narsisisme ada dalam setiap manusia sejak lahir bahkan Andrew Morrison berpendapat bahwa sifat narsisisme dalam jumlah yang cukup akan membuat seseorang memiliki persepsi yang seimbang antara kebutuhannya dalam hubungannya dengan orang lain. Namun apabila jumlahnya berlebihan, dapat menjadi suatu kelainan kepribadian yang bersifat patologis. Nah!

“dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman [31]: 18)

 

Di bagian lain Rasulullah SAW bersabda,

“Ada tiga hal yang dapat membinasakan diri seseorang yaitu : Kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti serta seseorang yang membanggakan dirinya sendiri”. (Hadits ini disebutkan oleh Al-Mundziry dalam kitab At-Targhib wa Tarhib 1/162 yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Al-Baihaqi serta dishahihkan oleh Al-Albany).

 

Dalam ukuran wajar, selfie atau narsis ini memang menjadi semacam sebuah kebutuhan aktualisasi diri. Yang menarik ini sejalan dengan shifting power yang terjadi. Dari vertical ke horizontal, dari terpusat menjadi bersifat komunal. Awalnya dari sendiri, one man show lalu kemudian narsis berjamaah. Nah, dengan narsis berjamaah ini sifat-sifat patalogis yang disebutkan di atas bisa kita minimalisir.

Dalam fenomena “tongsis”, kita bisa lihat bahwa kebutuhan aktualisasi diri dari setiap individu ini menemukan kesamaan pada hubungan interest  dan needs. Muncullah sikap guyub dan kebersamaan. Awalnya narsis bersifat individual dan menonjolkan diri, maka dengan tongsis ini kebutuhan “tampil” dan di”akui” ini menjadi baur, menyatu dan menemukan titik rasa pada aspek group feelings,group thought, group needs. 

Dalam organisasi atau komunitas, konteks narsis berjamaah di atas menjadi menarik. Dalam “tongsis” ini ada tren berbagi panggung, berbagi kekuasaan. Dan ini bisa mengurangi sifat patalogis yang disebutkan di atas.

Lebih lanjut, Amalia E. Maulana, PHD, seorang Brand Consultant dalam akun twitter-nya pernah berpendapat bahwa era membagi panggung ini dijadikan catatan bagi para pemimpin baru. Semangatnya adalah semangat fasilitator perubahan, untuk menjembatani group needs. Tidak bergaya diva yang menjadi pusat perhatian tetapi justru membawa khalayaknya untuk ikut serta dalam kegiatan apapun yang sedang dikerjakannya. Ini adalah faktor kunci sukses untuk para pemimpin generasi baru.

Pemimpin yang bersedia mendengar, kesediaan menangkap dan mengelola kebutuhan anggota/komunitasnya dan kesediaan untuk tampil bersama masyarakatnya di panggung. Pemimpin masa depan adalah yang mempunyai persamaan nilai, apresiasi anggota komunitas, membina emotional attachment, dan terus mengadakan dukungan terhadap komunitasnya, terhadap jamaahnya, terhadap peer-nya dan partner-nya.

Pemimpin tidak memonopoli sorot lampu dan kemudian menjadi “pemerintah” atau “matahari pusat tata surya”. Tetapi membagi otorisasi sambil melayani crowd-nya. Sinergi ini menjadikan member dan pemimpinnya duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tidak berjarak. Senyum bersama dan narsis bersama…

Kini akan berakhir masa pemimpin yang menjadi center of attention, center of the world. The next center adalah crowd–jamaah komunitas. Siapkah pemimpin baru beradaptasi? Siapkah kita? Siapkah anda?

Advertisements

One thought on “99 Ideas for Happy Worker: SELFIE-Fever

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s