99 Ideas for Happy Worker: Menjadi Warga Negara (yang Baik?)

image

Suatu ketika obrolan warung kopi terjadi.

“Percuma bayar pajak! Lihat saja jalan trans Kalimantan bertahun-tahun tak pernah jadi. Daerah tetap terkucil sementara kekayaannya terus dikeruk untuk memajukan pemerintah pusat. Pemerataan dana pembangunan tidak terjadi. Kacau. Lalu kita tetap harus bayar pajak tiap tahun?! kemana uang kita larinya???” Gemuruh seorang kawan.

“iya, bayar pajak hanya akan menciptakan, Gayus-Gayus baru! rasa-rasanya kita ini seperti di rampok! Nggak rela akuuuuu!” Imbuh kawan yang satu lebih seru.

“Memang sebaiknya negara kita ini diubah saja jadi negara federal. Nggak cocok dengan realitasnya. Persatuan semu yang hanya memanfaatkan kesamaan nasib dijajah Belanda, namun konsep pembangunan daerahnya tidak pernah padu dan sesuai dengan cita-cita memakmurkan bangsa.” Timpal sahabat saya yang sedang semangatnya menempuh pendidikan S2-nya itu.

Menjadi warga negara yang baik di negeri ini memang sulit. Bahkan untuk menjadi tertib berlalu lintas saja sering kali dicap sebagai orang “bodoh” dan lugu.

Banyak kalangan mapan dan kelas menengah mulai berfikir apatis atas  segala kondisi yang seringkali membuat sebagian kita tidak percaya lagi dengan sebuah institusi negara. Padahal banyak hal dalam kehidupan sosial ini, membutuhkan peran sebuah institusi bernama negara.

 

Negara merupakan integrasi dari kekuasaan politik dan organisasi pokok dari kekuasaan politik, selain itu negara merupakan agency (alat) dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala-gejala kekuasaan dalam masyarakat. Manusia hidup dalam suasana kerjasama, sekaligus suasana antagonististis dan penuh pertentangan. 

 

Negara adalah organisasi yang dalam suatu wilayah dapat memaksakan kekuasaannya secara sah terhadap semua golongan kekuasaan lainnya dan yang dapat menetapkan tujuan-tujuan dari kehidupan bersama tersebut. Negara merupakan cara-cara dan batas-batas sampai dimana kekuasaan dapat digunakan dalam kehidupan bersama itu, baik oleh individu dan golongan atau asosiasi, maupun oleh negara sendiri. Dengan demikian ia dapat mengintegrasikan dan membimbing kegiatan-kegiatan sosial dari penduduknya ke arah tujuan bersama. (Miriam Budiarjo, Dasar – Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005), Cet. XXVII,hal. 38)

 

Menurut Ibn Khaldun manusia diciptakan sebagai makhluk politik atau sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan orang lain dalam mempertahankan kehidupannya, sehingga kehidupannya dengan masyarakat dan organisasi sosial merupakan sebuah keharusan (dharury) (Muqaddimah: 41).

Tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Kebaikan yang sulit diwujudkan semua, bukan menjadi alasan bagi kita untuk meninggalkannya sama sekali. Terlepas bentuk, sistem dan otoritas negara yang valid, yang dibenarkan, dan sesuai dengan sebuah bangsa maupun peradaban, satu yang harus kita sepakati: bahwa kita memerlukan otoritas yang bisa mengelola segala bentuk kepentingan yang ada agar dapat mengakomodasi hajat hidup orang banyak menuju tujuan bersama.

Termasuk dalam hak politik sebagai warga negara. Memilih dan dipilih.

Sikap apatis dan enggan menggunakan hak suara alias golput pada dasarnya juga merupakan pilihan. Tidak ada yang salah. Namun perlu diingat, golput tidak akan mampu menyuarakan protes kita, dan setiap suara yang golput berarti akan terbuang sia-sia.

Lebih parah lagi, bisa saja suara golput itu tanpa sengaja memenangkan suara partai A atau calon anggota parlemen berwatak jahat yang justru menjauhkan dari cita-cita bagaimana sebuah negara dibangun. Begitulah sistem yang saat ini berlaku di negara ini.

Membayar pajak atau tidak membayar pajak, golput atau tidak golput tentu adalah pilihan. Sebagaimana juga pilihan antara menjadi karyawan yang baik atau sebaliknya. Dan setiap pilihan tentu ada tanggung jawab dan konskuensinya.

Maaf, begitulah hidup. Ia memang terkadang mengharuskan kita untuk memilih…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s