99 Ideas for Happy Worker: Kutu Loncat!

image

Dalam diskusi ngalor-ngidul sesama kroco mumet, fenomena kutu loncat adalah satu dari sekian bahasan yang cukup menarik.

Dalam perspektif HRM (Human Resource Management), fenomena ini menjadi evaluasi penting bagaimana membangun employee engagement. Lalu kemudian kaitannya pada loyalitas individu pada prinsip-prinsip dan tujuan perusahaan.

Semakin tinggi turn over karyawan dalam satu perusahaan bisa menandakan banyak hal: (1). Perusahaan tidak memberikan kelayakan masa depan, (2) Manajemen perusahaan tidak mampu membangun hubungan kerja yang sesuai dengan harapan pekerjanya atau (3) karyawan tidak cocok dan tidak mampu bekerja sesuai dengan target perusahaan (4) karyawan tidak memiliki komitmen dan loyalitas pada pekerjaan…. dan masih banyak lagi berbagai analisa yang muncul, baik dari kacamata manajemen maupun dari sisi karyawan atau pekerja itu sendiri.

Tapi juga jangan terlalu bangga jika sebuah perusahaan memiliki turn over karyawan yang sangat rendah. Lihat dulu, jangan-jangan karena karyawannya sudah tidak memiliki gairah sama sekali. Tidak lagi memiliki motivasi tinggi, alias pasif dan status quo. Hehe…  Jangan-jangan pula yang sudah pindah adalah karyawan bintang, sedangkan yang tersisa adalah karyawan-karyawan berkinerja buruk namun tetap bermimpi untuk pensiun di dalam perusahaan tersebut, enggan menjawab tantangan perubahan zaman… 🙂 who knows?

Kalau kita mengamati industri sepakbola manca negara, lebih lagi di dataran Eropa, fenomena kutu loncat ini bukanlah hal yang tabu. Masing-masing pemain kelas dunia itu jarang menghabiskan seluruh karir sepakbolanya dalam satu lapangan hijau bersama tim yang sama. Dalam setiap pergantian musim mereka bisa saja berpindah dari squad/tim satu kepada yang lain. Tak jarang bahkan berpindah ke tim rival. Tidak ada kawan dan lawan abadi, yang ada kepentingan abadi.

Apa sih “kepentingan-mu?”

Komitmen mereka bukan pada entitas, tetapi pada bagaimana misi hidup mereka dicapai melalui sebuah squad team sepakbola yang mereka pilih.

jadi, kalau memang mantab mau berkarir di area yang berbeda, selama itu penuh manfaat dan mampu mendorong kapasitas diri … mengapa tidak?

Jangan sampai kita jadi kutu loncat hanya karena persoalan “gaji tak cukup”, karena kalau hanya persoalan uang yang melandasi kita loncat sana dan loncat sini, yakinlah energi kita akan terus habis.

Meski kita bekerja karena diawali dengan kebutuhan untuk pemenuhan hidup (baca: uang), bukan berarti keputusan ktia  pindah hanya dilandasi karena uang semata. Jika selalu dirasa kurang dan tidak pernah cukup itu artinya ada permasalahan dengan pengelolaan keuangan kita, dan cara pandang kita terhadap harta.

Sangat banyak hal yang bisa dibeli dengan harta. Tetapi lebih banyak lagi yang tidak. Uang bisa membeli tempat tidur mewah, tetapi tidak untuk kenikmatan tidur di atasnya. Uang bisa membeli rumah besar dan lapang, tetapi tidak untuk kelapangan jiwa dan ketentraman hati orang-orang yang tinggal di dalamnya.

 

Begitulah kita kerap mendengar istilah Hedonic treadmill.

Kalau sudah selalu merasa kurang seperti itu, “kutu loncat”nya hanya akan loncat terus dan loncat terus hingga ke liang lahatnya sendiri dan tidak akan mendapatkan hal yang berarti dalam hidupnya…

Kasihan!!

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan tentang perusahaan atau industri yang saat ini kita berada menjadi bagian di dalamnya. Kondisi politik, ekonomi global, kepentingan regulator, pemilik modal dan lain sebagainya adalah faktor-faktor eksternal yang tidak bisa kita kelola secara langsung.

Yang sangat bisa kita kelola saat ini adalah tentang diri kita.

Berikut ini ilustrasi sederhana ala kadarnya bagaimana seorang kutu loncat yang cerdas merancang proses shifting area karir atau perjalanan profesinya.

image

 

Tulisan kali ini tentu bukan sebentuk provokasi kepada kita untuk melakukan eksodus secara serentak dengan gegabah memutuskan untuk pindah karir. Justru sebaliknya ini adalah bentuk warning. Setiap orang memiliki rencana hidupnya sendiri-sendiri. They have their own purpose of life; their own battle!

Ketika hendak loncat pindah area karir atau bahkan perusahaan sekalipun, lakukanlah dengan “indah”, dan bukan karena pilihan materi semata. Tetapi tentang sebuah kata sakti: purpose of life.

tabik!

Advertisements

One thought on “99 Ideas for Happy Worker: Kutu Loncat!

  1. MANTAB mas Rifky. izin share yak hahaha keren tulisannya, salam dari “orang yang sering wawancara mas di kantor.” ohya mas sekalian kalo iseng mampir jug ke blog saya di kreariefitas.blogspot.com. Fakir motivasi dan komentar dari blogger lainnya nih saya hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s