99 Ideas for Happy Worker: Save Our “Job” (?)

image

Apa yang sebenarnya kita lakukan setiap hari, dari Senin sampai dengan Jumat? pergi pagi-pagi meninggalkan rumah? berjibaku dengan segenap kesulitan di jalan, ketidaknyamanan situasi hingga siap-siap dibebani sebegitu banyak kerjaan? Untuk mencari sesuap nasi dan sekantung berlian? aha…

“Benarkah hanya untuk uang?”

Bekerja untuk membayar hutang (“tersandera KPR” wkwkwk) atau sekedar untuk bisa menagih janji pada perusahaan?

When the only reason to stay work to is getting your salary, you will loss for everything. If you work ONLY for the money, you are fooling yourself and are ignoring the opportunity to be truly happy -rene suhardono.

Bekerja adalah sebuah tools atau alat. Sebuah mandat untuk dituntaskan dan diselesaikan, tetapi mestinya bukan untuk sebuah imbalan uang, materi atau pun jabatan semata, melainkan untuk sebuah misi. Sebuah alasan besar yang melampaui sekedar materi. Apalagi terkadang dan seringkali angka materi dan kompensasi hasil jerih payah karyawan tak sepadan diganjar oleh manajemen perusahaan. #ups!

Kata orang bijak, “great money follows great work”.

Jadi yang paling penting tentu adalah bekerja dengan baik, dengan G-R-E-A-T (kata manajemen perusahaan kami); maka keuntungan finansial dan atribut materi akan seiring berjalan menyusul. Insya Allah. Apalagi bagi yang meyakini bahwa keberkahan harta dan rezeki itu bukan terletak pada angka kuantitas, karena berkah itu tak selalu ada pada yang “banyak”. 🙂

Pada awalnya, orang bekerja apalagi yang sudah berkeluarga digerakkan karena dorongan tanggung jawab finansial. Sehingga sangat dimungkinkan akan banyak orang yang bekerja tidak lagi menuruti backgroud pendidikan atau pun soal passion, apalagi bicara terkait misi hidup. Seng penting nyambut gawe... (jawa: yang penting punya kerjaan), supaya tidak di protes sama mertua, hehe…

Padahal apa pun pekerjaannya sejatinya misi hidup kita itu sudah jelas dan bisa diintegrasikan dengan posisi apa saja di dalam episode kehidupan kita masing-masing.

Lalu beberapa tahun kemudian kita banyak temui orang-orang ini bilang: “I hate my job!” Kenapa? Karena mereka tidak menemukan sesuatu yang membuat mereka antusias, bergairah dan mampu mengeluarkan segenap kemampuannya. Kelasnya hanya sampai pada “yang penting bekerja”. Tanpa menemukan internalisasi diri pada proses memenuhi tanggung jawab sebagai pekerja.

Hati-hati jika alasan “I hate my job” hanya karena akhir/awal bulan rekening tabungan saldonya selalu stagnan dan bahkan minus.

Yang kita butuhkan ketika itu sebenarnya bukan new job with big salary, yang pertama kita perlu audit adalah tentang bagaimana financial planning dan pengelolaan antara keinginan vs kebutuhan kita; termasuk soal life-style, #ugh! Karena bisa jadi setelah pindah dan memperoleh penghasilan lebih besar kita masih dihadapi hal yang sama: gaji yang selalu kurang. Kalau sudah seperti itu, nggak bakalan selesai-selesai, deh!

Bagai minum air laut, makin diminum makin haus terasa.

So, mari kita evaluasi diri bersama, jangan-jangan kita selama ini save our job just for money only sehingga patokan kinerja kita akhirnya hanya sampai pada angka di rekening tabungan doang…

Serupa dengan “Ada uang abang disayang, nggak ada uang abang ditendang!”

Weks…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s