99 Ideas for Happy Worker: Indah Saja Semua Profesi…

Rabbi; indah saja semua profesi. Musa buruh Kau puji Qawiyyun Amin; Yusuf pegawai Kau puji Hafizhun ‘Alim; Dawud pandai besi Kaupuji Dzal Ayd.

-salim a fillah

image

Qowiyyun Amin adalah karakter Nabi Musa ‘Alaihissalaam yang diabadikan dalam Al-Qur’an Surat ke-28 :26, saat beliau masih belum diangkat menjadi Nabi dan Rosul ketika itu. Lari dari negeri Mesir dalam sesal dan takut. Lelah yang belum lagi luruh, letih yang belum juga pergi.

Syahdan, hingga tiba di negeri Madyan,  saat ia melihat ada orang yang kesusahan ia pun masih saja rela tanpa pamrih membantu dan menolong, padahal dirinya sendiri sangat membutuhkan pertolongan. Merekalah anak-anak dari Nabi Syu’aib ‘Alaihissalaam. Atas karakter inilah Nabi Musa kemudian diangkat menjadi karyawan oleh Nabi Syu’aib, membantu bekerja mengembala ternak dan segala macam urusan dalam beberapa tahun lamanya.

Qowiyy artinya kuat yang dalam dunia usaha bisa mencakup kompetensi, professionalism dan sejenisnya. Amin artinya amanah; dapat dipercaya.

Dunia usaha, dunia bisnis, kata para pakar entrepreneur, modal utama bukanlah uang, melainkan kepercayaan.

Integritas! Begitu pula yang membuat Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihii wassalaam dapat sukses dalam setiap perniagaannya hingga mengantarkan kepada kegemilangan, tak lain adalah:  kepercayaan. Al Amin.

Hafidzun ‘Alim adalah karakter Nabi Yusuf ‘Alaihissalam yang diungkap dalam Qur’an Surat ke-12 : 55. Hafidz artinya menyimpan atau menjaga, dalam dunia usaha juga berarti menglola atau me-manage.

‘Alim artinya berilmu, berpengetahuan atau memiliki pengetahuan. Dalam istilah bebasnya bisa menjadi, “doing what you know, and know what you are doing”.

Ilmu harus mendahulu (sebelum) amal. Sehingga seorang pekerja tentu menjalankan pekerjaannya atas dasar karena pengetahuan dan ilmu yang dimilikinya.

Karakter Hafidzun ‘Alim ini diungkap oleh Nabi Yusuf saat melakukan job tender dalam bahasa sekarang. Dia meminta dan menawarkan diri untuk duduk pada sebuah jabatan (bendahara negara) karena keterpanggilan dan kesiapannya untuk menunaikan amanah besar itu. Karena beliau sadar akan potensi dan kemampuannya, sebagai bagian dari wahyu kenabiannya.

Namun diparade epik lain, saat Abu Dzar Al Ghifary meminta sebuah jabatan kepada Rosulullah, maka beliau justru dinasehati. Atas dasar ketidaksesuaian potensi dan kapasitasnya, Nabi tidak memperkenankan permintaannya.

Sungguh tiada ada pekerjaan yang hina. Semua orang bisa memberikan kontribusi, meski tanpa jabatan. Sedangkan di sisi lain, jabatan tak selalu bisa memberikan ruang luas untuk berkontribusi.

Buruh, tukang sapu, cleaning service, Office Boy, Security, atau apa pun adalah sama dimata Allah dengan sebutan direktur, CEO, menteri atau presiden sekalipun. Karena soal amal dan kontribusi kita (dalam kebaikan) tidak dinilai oleh judul dan jabatan kita semata. Di balik kekuatan dan jabatan besar maka juga terdapat tanggung jawab yang besar. Itu saja bedanya.

“Maka lebih baik menjadi buku tanpa judul, daripada judul tanpa buku…”

.:salam:.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s