99 Ideas for Happy Worker: Bukan Motivator

image

Bagaimana mungkin menuntut motivasi dari orang yang masih perlu mendapatkan motivasi dari orang lain? Lalu apakah seorang motivator sudah pasti tidak memerlukan dorongan dan motivasi dari orang lain?

Motivasi yang terbaik sebenarnya adalah motivasi yang muncul dari dalam diri sendiri, dibangun dan direkonstruksi dari sebuah kesadaran dan pemahaman.

Sebenarnya kita ini lebih membutuhkan inspirasi ketimbang sebuah motivasi, walau dalam beberapa kondisi kita memang butuh motivasi orang lain. Mungkin sekadar untuk membangkitkan potensi yang sebenarnya sudah kita miliki, hanya saja kita belum merasakannya bahwa itu adalah potensi kita. Kadangkala kita baru sadar ketika diberikan motivasi agar mau bergerak, mau melakukan sesuatu, mau bertindak. Pada kondisi ini, motivasi memang diperlukan.

Dan kadangkala motivasi itu bisa seperti kisah jenaka soal bagaimana seseorang bisa memenangkan sayembara bisa menyeberangi sungai yang penuh dengan buaya. Saat ditanya apa kunci suksesnya? Maka ia justru balik bertanya pada hadirin, siapa yang berani dan tega mendorongnya hingga jatuh ke dalam sungai dan memaksanya berlomba dengan maut? hehe.. Jadi motivasi itu bisa saja seperti sebuah “dorongan paksa” sehingga kita bisa mengeluarkan segenap kemampuan.

Namun, kenyataannya motivasi tak selalu menjadi ‘vitamin’ bagi orang yang menerimanya, bahkan ironinya adakalanya sang motivator justru malah yang harus dimotivasi. Salahkah? Tidak juga.

Inilah sisi manusiawi setiap orang. Sebagaimana khatib jumat yang selalu mewasiatkan pesan takwa kepada jamaah, dan juga dirinya: Usiikum wa nafsi bitaqwallah (aku menasihati kalian dan aku sendiri dalam bertakwa kepada Allah). Nasihat memang untuk diri kita dan juga orang yang kita beri nasihat.

Begitu juga bagi seorang pemimpin saat memberikan motivasi dan nasehat bagi tim dan orang yang menjadi bawahannya. Satu telunjuk untuk orang dihadapannya, sementara empat jari lainnya mengarah kepada yang menunjuk.

Bagi saya menulis juga seperti itu. Ketika menulis, sejatinya adalah pesan bagi saya sendiri dan juga siapapun yang membaca pesan yang saya tulis. Sebab, saya—dan juga siapapun yang menyampaikan pesan nasihat—wajib bertanggungjawab dengan apa yang disampaikannya. Meski kadangkala sulit, justru dengan menuliskannya maka inspirasi dan motivasi bisa hadir secara bersamaan. 

kita butuh motivasi (termasuk menurut saya, inspirasi) dari orang lain. Tetapi, peran kita tetap menentukan langkah kita sendiri. Para inspirator dan motivator, kelas dunia sekalipun, tak akan bisa menolong keterpurukan kita jika kita sendiri tak mau dan tak bersedia untuk berubah.

wallahu’alam.

Bagaimana menurut anda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s