99 Ideas for Happy Worker: Race in Peace?

image

Judul tulisan kali ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan meninggalnya seorang pesohor Hollywood yang dikenal sebagai salah satu bintang utama sequel film “The Fast and The Furious” di atas kendaraan pacunya di dunia nyata. Atau kejadian beberapa tahun lalu seorang pembalap muda motor GP, Marco Simoncelli yang tewas meninggal di  circuit ternama Sepang, negeri jiran Malaysia.

Rangkaian kata “Race in Peace (?)” di atas lebih tepat mengilustrasikan sebuah situasi yang sangat erat di sekitar kita: Perlombaan. Adu cepat, adu kuat, adu nyali, adu-adu yang lain. Semuanya mampu mengalihkan “dunia” kita. Seperti kedua pesohor kita di atas. Meninggal karena teralihkan pada dunia: kebut-kebutan.

Kita sering tanpa sadar mengalami kondisi bagai minum air laut, semakin diminum semakin haus terasa. Semacam hedonic treadmill, seakan-akan terjebak dalam sebuah perlombaan adu lari, yang menuntut kita untuk terus lari dan lari mengejar sesuatu hingga kita lupa untuk apa kita sebenarnya berlari? Karena yang ada hanya tuntutan bahwa kita harus paling terdepan diantara yang lain lalu kemudian lupa pada alasan mengapa kita harus lari, mengejar dan menjadi yang terdepan…

Setelah kita dapat, lalu kita mengejar sesuatu yang lain, terus dan terus,..

Sejauh-jauhnya berlari, secepat-cepatnya berlari toh pada akhirnya sampai juga ke liang lahat. Begitu mungkin gambaran ilustrasi yang saya buat di atas. Ya,… sebuah catatan dan ilustrasi yang khusus untuk manyadarkan diri sendiri. Tentu.

Rekan dan sahabat spektakuler,
siapa pun pemenang dalam “perlombaan” kehidupan ini, kita memang perlu sadar bahwa ada dimensi waktu yang selalu ada “batasnya”, semua ada titik akhir. Yang terdepan tidak akan selamanya di depan, yang di atas tidak akan selamanya di puncak, dan yang lemah bisa jadi kelak jadi kuat, begitu seterusnya. Roda kehidupan bergulir.

Soal panjang dan pendek waktu itu tak jadi soal, karena “what matters now is your contribution not your position, not what you’ve got”

Kontribusi inilah yang akan mampu memberi nilai hakiki atas return of investment waktu, yang sebenarnya juga “given”. Kita hanya tinggal menanamkan modal tersebut pada agenda-agenda kebaikan.

Bahkan ada agenda atau “kontribusi” yang akan selalu memberi profit sharing meski kita tak lagi bisa hadirkan jasad, meski tulang belulang kita telah menyatu dengan lumpur tanah, daging dan kulit kita pun telah luruh terurai di dalamnya.

Semoga kita menjadi orang yang beruntung kelak…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s