99 Ideas for Happy Worker: Pekerja Malam

image

Para pekerja malam adalah orang-orang yang tangguh.

Sungguh, mereka adalah orang-orang yang berani mempertaruhkan kondisi fisiknya di masa depan. 4 jam bekerja di tengah malam tetap saja berbeda dengan 8 jam bekerja normal di pagi hingga sore. Secara agregat durasi waktu lebih kecil namun dampak ataupun efeknya tetap berbeda.

Bagaimana dengan orang yang sudah bekerja selama 8 jam di pagi hingga sore, lalu harus ditambah dengan 4 jam lagi bekerja di tengah malam. Sungguh ter-L-A-L-U Tangguh!

Satuan pengamanan, penjaga alat produksi vital milik perusahaan ataupun para engineer dan pekerja-pekerja atau buruh-buruh shifting time lainnya adalah contoh orang-orang tangguh tersebut.

Maka padanya memang harus diberi ruang jeda rehat yang memadai, meski waktu malam tidak akan juga bisa menggantikan waktu siang. Demikian sebaliknya. Karena malam dan siang diciptakan memang secara Sunnatullah sesuai dengan kebutuhan siklus biologis manusia.

Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (QS.An-Naba’:11).

“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. Al-Qashash:73).

“Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang…”(QS. Al Mu’min:61)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar-Ruum:23)

“Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya dan siang yang menerangi? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Naml:86).

“Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.” (QS. Yunus:67).

Meski bukan waktu ideal untuk beraktivitas, bekerja pada waktu malam bukanlah sebuah larangan, apalagi sejatinya bahwa seluruh bagian hidup kita ini bisa bermakna ibadah selama tidak termasuk maksiat, melanggar ketentuan norma dan aturan. –> maka semua kembali kepada niat dan caranya.

Hanya memang bekerja pada waktu malam hari memiliki dampak resiko yang lebih tinggi ketimbang bekerja pada waktu normal, di siang hari. Bahkan menggantikan waktu istirahat dan tidur di siang harinya tidak akan bisa mengurangi dampak resiko yang dihadapi oleh tubuh.

Mereka yang sering lembur malam hari memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung, karena sebuah penelitian penyebutkan bahwa pada waktu antara pk. 23.00-01.00, kerja jantung dalam kondisi menurun atau melemah, sehingga dianjurkan agar tubuh dalam kondisi beristirahat/tidur.

Dampak negatif kerja malam terhadap kesehatan manusia antara lain juga dapat mengganggu bioritme harian dan rentan terkena berbagai penyakit seperti gangguan pada lambung, sakit perut, diare, dan hilangnya nafsu makan. Kerja malam juga “membingungkan” jam kerja biologis tubuh, untuk mensinkronisasikan konsumsi makanan, fungsi pencernaan dan metabolisme tubuh lainnya. (hidayatullah.com dan berbagai sumber lainnya)

Bekerja malam hari juga berdampak pada gangguan kualitas tidur, juga mengurangi aktivitas sosial.

Lalu bagaimana harusnya? adakah pilihan yang bisa diambil?

Menyamakan satu persatu, membandingkan apel ke apel (baca: apple to apple) antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lain, amanah dan beban kerja yang satu dengan yang lain memang tidak bisa sekedar menggunakan besaran angka sebagai satu-satunya ukuran. Apalagi soal resiko-resiko yang dihadapi setelahnya. Toh, setiap pekerjaan selalu menyisakan resiko. High gain high risk katanya? persoalannya kadang justru tidak ideal: low gain but high risk.

Lalu solusinya apa?

Bagaimana agar tetap enjoy dan happy? ; agar sesuai dengan tema dan judul/genre tulisan ini? 🙂

Manajemen perusahaan yang baik memang harus memahami kondisi dan resiko yang dihadapi oleh pekerja yang merupakan aset terpenting dalam menjalankan bisnisnya.

Memberi ruang dan jadwal istirahat yang cukup, menjalankan sistem one day off berselang atau fleksibilitas waktu kerja yang kompromis ditunjang dengan penyediaan fasilitas olah raga, rekreasi dan tunjangan kesehatan yang memadai mungkin bisa menjadi satu dari sekian cara.

Sudahkah kita,…?

.:salam:.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s