99 Ideas for Happy Worker: Merancang Perjalanan Karir

image

8 tahun di Pontianak, 1 tahun di Singkawang. Namun, belum waktunya saya pulang. Saya masih (merasa) muda, ada banyak tempat dan hal yang harus saya datang dan lakukan. Melakukan banyak hal yang tidak menjadikan diri ini menyesal di tua nanti. Mengunjungi lebih banyak tempat, menulis lebih banyak hal, menjalin lebih banyak teman. Berbuat lebih banyak, berusaha memberi manfaat dalam setiap hadirnya dan berkesempatan untuk terus belajar.

Masa muda ini masih panjang dan saya masih dalam perjalanan. Semua menjadi rahasia. Membicarakan masa depan memang menarik sekaligus mencemaskan 🙂

 

Begitu mungkin saya menulisnya di sebuah lembaran buku harian. So sweet bukan? hehe.

Musim bagi-bagi SK sudah berlalu. Ada yang sudah kembali ke kampungnya. Ya, teman peers saya salah satunya. Kembali ke kampung halaman.

Bekerja di sebuah perusahaan dambaan sebagian orang, lalu bertempat tinggal pula di sana. Oh, sempurna.

Namun Mas yang satu ini justru tidak terlalu bahagia. Apa sebab? “Ya gitu deh, mas… artinya suatu saat saya harus move on lagi, karena pasti ini tidak untuk selamanya hingga akhir masa kerja saya. Suatu saat saya akan dimutasi lagi. Dan terpaksa meninggalkan kampu halaman lagi, padahal bisa jadi saat itu justru saya sudah tidak lebih siap lagi untuk pindah…”

Saya tertegun.

Kadang kala mimpi dan harapan untuk “kembali ke kampung halaman” itu memberi nuansa rindu yang membuncah. Jadi ingat tulisan saya sebelumnya tentang “Pulang”. (https://99ideasforhappyworker.wordpress.com/2013/07/18/99-ideas-for-happy-worker-pulang/)

Merancang dimana kita tinggal dan kemudian “berlabuh” di akhir masa pensiun di kampung halaman; “mbangun ndeso” adalah pilihan yang begitu melankolis sekaligus patriotis.

Tapi tak selamanya apa yang kita harap selalu cepat menjadi kenyataan. Toh begitu janganlah pernah berputus asa. Apalagi berputus asa dari Rahmat-Nya.

Berpisah dengan keluarga tercinta memang sulit, saat ternyata SK menentukan bahwa kita harus berjarak jauh ribuan kilometer dengan sang pendamping hidup; permaisuri dan si buah hati nan kecil penerus generasi. Menjalankan peran ayah dan suami seutuhnya hanya di akhir pekan atau bahkan dua pekan sekali.

Hidup memang pada akhirnya adalah parade pilihan. Seperti sebuah perjalanan mendaki, panjang dan berliku. Setiap fasenya selalu ada persimpangan. Kalau “tidak”, berarti “iya”. Kalau bukan ke kanan berarti ke kiri. Begitu seterusnya. When nothing goes right, then go left!

Dalam menata karir pun juga demikian, meski banyak faktor eksternal yang sulit kita prediksi. Setidaknya ada benarnya pepatah dan ungkapan dari Abraham Lincoln:  “The best way to predict the future is to create it”.

Bekerja terus mengabdi di perusahaan hingga akhir nanti atau kemudian pada akhirnya “quit” mengambil short cut menuju ke pulau impian membangun karir nyata di luar tentu adalah pilihan-pilihan yang bisa kita ambil. Bahkan berkarir menjadi full time mother juga merupakan pilihan. Pilihan yang mulia, sangat mulia.

Tetapi menyalahkan Surat keputusan manajemen, dan tidak rela ditempatkan di suatu tempat, padahal begitulah “janji” kita di awal menerima perikatan kerja–bukanlah sikap kepahlawanan yang kita perlukan saat ini.

“Everything happens for a reason.” Begitu mungkin yang perlu selalu kita ingat. Agar kita merasa “kuat”, yakini bahwa kita ada di sana karena sebuah sebab. Sebab yang mungkin harus kita jawab sendiri.

.:salam:.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s