99 Ideas for Happy Worker: “Bekerja” di Warung Kopi

image

Minum kopi, atau ngopi, mungkin satu dari sedikit kata kerja yang bisa mewakili banyak aktivitas: dari negosiasi bisnis, tukar pikiran dalam pekerjaan reuni dengan kawan lama, sampai bincang-bincang non formal di pinggir jalan.

Ngopi juga adalah aktivitas yang tak peduli status sosial, tanpa membedakan segresi jender, strata sosial, usia atau apapun yang dapat menjadi penyekat kepopuleran sebutan ini, baik laki dan perempuan, kaya dan miskin, tua dan muda, orang tidak terhormat-hampir terhormat-bahkan yang katanya terhormat. Dari warung kopi kelas mahal ala Starbucks, Coffee Bean, Coffee Club, Java Bay, dan Segafredo Espresso yang kerap dibanjiri pengunjung, sampai ke warung kopi kelas rakyat di sebelah pangkalan ojek.  🙂

Pendek kata, warung kopi memuat sesuatu yang tidak sesederhana sebutannya. Ia telah menjadi ruang publik dalam pengertian tempat (place) dan ruang (space)

Sebagai tempat (place) ia merupakan ruang untuk kegiatan atau tempat aktifitas jual-beli minuman-makanan, tempat bekerja (bagi pelayan dan pemilik), bersantai (bagi pengunjung).

Sebagai space, menjadi ruang bagi muncul dan berkembangnya interaksi, komunikasi antar pengunjung, pemilik atau bahkan pelayan sekalipun. Ia menjadi ruang publik dalam arti sebenarnya, baik fisik maupun non fisik.

Ternyata lagi anggapan budaya minum kopi di pinggir jalan sambil “hang out” merupakan budaya yang cocok dengan gaya dan habit orang Melayu (pesisir) ternyata sedikit keliru.

Budaya warung kopi juga dijumpai di tanah Jawa. Kalau di Jogya-Solo kita mengenal dengan warung angkringan dengan kopi joss-nya yang terkenal itu, sedangkan di pesisir pantai utara Jawa orang sering menyebutnya dengan budaya cangkrungan. Dengan sedikit meramput sana-sini (istilah khas Melayu Pontianak, baca: ngomong ngalor-ngidul) , silaturahim dan pertukaran informasi bisa kita peroleh dari yang penting sampai tidak penting di sebuah tempat bernama warung kopi.

Bahkan rekan kerja kami, sering menyebutnya aktivitas nongkrong di warung kopi sebagai “rakor”. 🙂  rapat, kopi dan rokok mungkin maksudnya. Hehe..

Sering pula kalau kami sedang menghubungi salah satu mitra:
“Lagi dimana, Bro?”
jawaban dari seberang: “Hehe.. lagi di kantor boss…”

Kantor maksudnya, ya warkop tadi.

Orang datang ke warung kopi ternyata tidak hanya untuk sejenak menikmati satu kesenangan, yakni melepas lelah dan dahaga, melainkan justru menjadi awal memulai aktifitas keseharian.. terutama bagi para pengacara.. hehe.. (pengusaha banyak acara…) ^_^

Warung kopi juga menjadi tempat bertemu teman, handai taulan, bahkan rekan bisnis. Di tempat ini, sambil menikmati kopi dan penganan, orang dapat membicarakan banyak hal ; dari yang serius, setengah serius atau tak serius sama sekali. Bahkan orang tak mesti bicara, cukup datang, ditemani minuman, sambil berpikir atau menghayal. Inspirasi bahkan sering datang dari tempat ini. Entah berapa besar nilai transaksi bisnis yang pernah terjadi di atas meja warung kopi ini, dari bisnis ecek-ecek sampai bisnis “becek” lainnya.

Sebagai seorang yang bukan penikmat kopi, kadang saya mau tidak mau harus akrab dengan space dan place yang satu ini. Mulai dari sekedar menemani driver yang rehat sejenak dari perjalanan jauh, atau sekedar meluruskan kaki atau memang sedang mencari panganan ringan sambil bersendau gurau membangun keakraban dengan tim.

Dahulu almarhum Imam Hasan Al Banna mulai membangun kerangka dan pondasi sebuah ideologi pergerakan yang kini sangat berpengaruh saja melalui warung kopi, lalu mengapa kita tidak juga memulainya di sini?

Tinggal bagaimana konteks dan konten diskusi dan pembicaraan yang dibangun dalam ruang-ruang sempit nan hangat warung kopi tersebut adalah diskusi yang positif dan membangun, tentu.

Ketika ngantor cukup dengan pake kolor saja. Berkantor sambil outdoor, space-less karena dimana saja selalu connected, boarder-less dan mampu di kelola dengan gaya virtual leadership, bisa jadi rekan-rekan yang berada di lini terdepan, unit-unit kecil penjualan yang harus belusukan ke pasar-pasar distributor atau rekan-rekan network yang rutin keluar masuk dari site satu ke site lain tidak perlu lagi kantor yang sebenarnya. Warung kopi bisa jadi sebagai alternatif kantor yang “menyenangkan”.

Are U ready?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s