99 Ideas for Happy Worker: Melawan Kapitalisme?

image

Kalau kita bicara soal nasib dan kondisi kaum buruh, sudah pasti larinya tak jauh-jauh dari “clash of civilization”  (meniru istilahnya Samuel P. Huntington), namun bukan antara “timur” vs “barat” tetapi antara pemilik modal dengan pekerjanya.

Secara umum, kapitalisme adalah suatu paham dimana orang yang memiliki modal paling banyak maka dialah yang berkuasa dan orang yang tidak memiliki modal harus bekerja keras untuk si pemilik modal dengan bayaran yang semena-mena karena dia tidak memiliki kekuasaan apapun.

Secara aktual, pendekatan sistem kapitalis telah menjadi barometer dan kiblat dalam tata kelola hubungan industri, bahkan pada negara yang mengaku beridiologi komunis sekalipun. Tak terkecuali di negara Pancasilais seperti Indonesia kita tercinta.

Lalu bagaimana cara kita menghindari jebakan kapitalisme ini?

Saya sedikit membuat ilustrasi sederhana hasil “mengkhayal” di bilik termenung.

Ibarat perjalanan panjang, saat seorang karyawan bekerja untuk mencari nafkah, the end of the mind dari aspek upah/gaji serta fasilitas dasar yang oleh perusahaan disebut sebagai personal expenses itu, akan ada 2 status yang erat sebagai satu kesatuan mata uang yang tak terpisahkan di dalam diri karyawan. Sisi A, adalah Qonaah dengan inti di dalamnya syukur dan sabar sementara sisi B-nya adalah rasa keadilan, dimana terdapat keseimbangan antara hak dan kewajiban.

 

Gaji dan upah tersebut juga harus memenuhi 2 aspek lainnya, terpenuhi secara kuantitatif dan kualitatif. Kuantitatif terkait angka dan nilai numerikal yang relevan dan sesuai dengan besarnya kontribusi waktu, tenaga dan pikirannya dibanding dengan nilai ekonomi yang diraih oleh perusahaan; sedangkan kualitatif artinya gaji serta fasilitas pendukung lainnya tersebut mampu mendorong tercapainya kualitas hidup yang baik dan wajar sehingga yang bersangkutan terus mampu memberikan kontribusi yang optimal.

 

Qona’ah dalam memandang rezeki 

Qona’ah yang sering kita artikan sebagai perasaan cukup dan puas, sejatinya adalah perasaan sadar akan kedudukan; siapa Allah Sang Maha Pemberi Rezeki dan siapa kita ketika menerima karunia- Nya.

Qona’ah adalah perasaan yang menuntun jiwa kita untuk terus dapat bersyukur. Namun di jalan ini, terjebak pada kepuasan hingga tak ada gairah untuk meloncat lebih tinggi adalah perangkap gawat. Qona’ah bukan berarti diam dan stagnan apalagi apatis. Qona’ah ini menjaga kita jangan sampai menjadi budak dunia. Ia sikap yang menjadikan kita mampu meletakkan harta dan materi cukup digenggaman dan bukan di dalam ruang hati.

Syukur dan sabar melandasi sikap agar kita mampu menempatkan diri sebagai hamba. Syukur adalah mendayagunakan segenap nikmat yang telah Allah karuniakan untuk menggapai yang lebih tinggi. Yang berilmu janganlah puas dengan predikatnya, namun harus mengamalkannya dan berbagi agar penuh manfaat. Yang berharta janganlah puas dengan shodaqohnya. Yang bernafas janganlah puas sekedar berbaring dan duduk. Tapi bangkitlah. Berlarilah.

 

Ketika kita memandang bahwa sistem kapitalisme ini telah mencengkram dalam maka usaha kita bisa dimulai dengan memposisikan diri sebagai “Tangan di atas” –menjadi kran rezeki bagi orang lain, membuka small or medium enterprise sambil belajar menerapkan bisnis yang sehat dan adil, hingga pada akhirnya bisa mandiri membangun bisnis dan hubungan industri yang ideal jauh dari praktek kapitalisme yang mencekik.

Inilah aspek personal yang bisa kita bangun.

Lalu bagaimana di sisi B?

Saat kita bekerja menjadi bagian dari “mesin produksi” perusahaan dalam mengejar target baik dari sisi performance, revenue dan faktor capital gain, maka memperjuangkan hak dan kewajiban secara baik, tepat, berimbang dan sesuai adalah bagian yang penting untuk menjaga pola hubungan industri yang sehat, kompetitif dan saling mensejahterakan.

 

Di sini peran SERIKAT PEKERJA atau SERIKAT BURUH diperlukan.

Kekuatan jamaah!! 

Kita perlu barisan yang kokoh, padu dan solid. Suarakan aspirasi perjuangan dengan landasan pemahaman yang baik. Jangan asal tuntut. Serikat harus bisa memahami landscape industri dan financial performance perusahaan ditambah pula kemampuannya dalam membaca kondisi dan situasi ekonomi regional dan nasional.

 

Karena tanggung jawab kita bersama juga untuk bisa membangun pola hubungan industri yang harmonis.

Jangan hanya pemegang modal yang sejahtera, karyawan dan buruh pun harus sejahtera!

 

Dalam proses perjuangan inilah kita perlu nafas panjang. Paralel di sisi aspek personal kita kuatkan, memperjuangkan keadilan dalam keseimbangan antara hak dan kewajiban ini penting agar tidak ada satu pun pihak yang mendzalimi satu dari yang lain. Hal ini kita lakukan sambil terus berkarya dan berkontribusi maksimal sesuai dengan amanah dan tanggung jawab pekerjaan masing-masing.

Saat kita berjuang menyuarakan aspirasi menuntut standar angka kuantitatif, sadarkan jua bahwa ada aspek kualitatif yang perlu diukur.

Keberkahan itu tidak terletak pada besarnya “angka”, tetapi pada kondisi merasa cukup dimana nikmat serta kemanfaatannya meluah, bertambah dan berkesinambungan. Dan syarat di dalamnya tentu adalah syukur dan sabar.

Kenapa kita perlu “rem” seperti itu, agar kita tetap sadar bahwa “money is not the only way out”.

Pada akhirnya kita akan menginsafi pula bahwa hidup ini adalah deretan pilihan. Saat kita merasa jawaban atas persoalan “kuantitatif vs kualitatif”, dan atas soal “keadilan vs kesyukuran” ini tidak menemukan titik temu, kita tetap memiliki pilihan di ujungnya yaitu keluar dan cari lingkungan pekerjaan yang lebih baik atau membangun bisnis ideal idaman mandiri di atas kaki sendiri? Temukan passion diri dan wujudkan purpose of life di luar tempat saat ini kita bekerja.

Jangan terkungkung pada penjara persepsi sendiri. Perusahaan kita ini bukanlah segala-galanya dan menjadi tempat satu-satunya bergantung mencari rezeki/penghidupan.

Atau kita masih punya pilihan lain bukan?

Tetap bekerja di perusahaan ini sambil terus berjuang menghadirkan keadilan, berkontribusi sambil menambal sulam dari dalam. Agar kapal tidak karam, maka memang harus ada sebagian orang tetap mengayuh kuat secara bersama, namun ada sebagian lagi yang menyulam ulang layarnya agar tetap berkembang, dan menambal bocor palkanya, serta sebagian lagi memegang kendali kemudinya agar kapal bisa tiba di dermaga sejahtera bersama.

Mungkin itulah kita…

Karena mati itu pasti maka berjuang itu harus. Kematian itu sebuah kepastian. Tidak ada yang kekal di dunia ini. Termasuk juga entitas tempat kita bekerja, ada masa pasang juga ada kalanya surut. Bahkan suatu saat memang benar-benar menemui ajalnya, seperti kita pula. Perkaranya adalah apakah selama ia hidup tumbuh berkembang hanya menjadi mesin kapitalisme semata, atau menjadi generator kesejahteraan bersama penuh manfaat? Kitalah yang bisa menjawabnya.

Setiap perjuangan yang kita jerihkan, tak selalu hasilnya akan sesuai dengan harapan. Ada kalanya jauh dari yang kita pinta. Disitulah kita perlu kembali sadar bahwa apa-apa yang baik dalam kacamata kita, belum berarti baik dalam kacamata Sang Pemilik Skenario Kehidupan ini.

Tapi disitulah rahasianya, bukankah nasib sebuah kaum tidak akan berubah manakala kaum itu sendiri tidak mau merubahnya? Maka berjuanglah, berusahalah… soal hasil itu urusan Allah.

Berjuang menegakkan keadilan, berjuang mencegah kedzaliman, berusaha menginsafi diri dalam syukur dan sabar mengais rezeki yang halal dan berkah, hingga nikmatnya terasa merasuk, hapuskan setiap jerih, perih dan luka yang ada dalam setiap gesekan perjuangan, hingga akhir nanti….

Selamat berjuang…

.:salam spektakuler:.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s