99 Ideas for Happy Worker: Minta Naik Gaji, Antara Etika dan Hak

Image
Mind Map Faktor Penyebab Naik Gaji

Uang bukan segalanya. Money is NOT the way out to get a good person still having a good perform at his/her works. Tetapi uang memang telah menjadi satu dari sekian alasan orang pergi bekerja, bukan?

Ada sebuah teori yang cukup bisa dijadikan landasan diskusi melalui tulisan sederhana ini, “The yerkes-Dodson law”:  There is an optimal level of arousal for executing tasks. Departure from this level in either direction leads to a decrease in performance. 

Secara sederhana bisa kita terjemahkan menjadi: Too little pay, makes employees too sad about being poor to concentrate on work. Too much pay, makes employees too excited about being rich to concentrate on work. Hehe… 😀

Dalam beberapa hari terakhir, mungkin kita bersama menyaksikan dan menyimak beberapa berita hangat soal rencana pemerintah mengenai kenaikan gaji PNS hingga 6%, atau demo buruh di Jakarta yang menuntut kenaikan UMR hingga mencapai 3,7 juta setiap bulannya.

Terlepas motif dibalik itu semua, mulai soal politik, kepatutan pelayanan publik hingga soal kondisi ekonomi makro, inflasi, harga BBM dan lain sebagainya.

Apapun itu memang perlu kita cermati bersama.

Secara singkat saya mencoba membaca beberapa literatur dan artikel mengenai kebijakan kenaikan gaji atau upah yang diterapkan dalam perusahaan-perusahaan berskala kecil maupun menengah termasuk dalam pengelolaan SDM dan manajerialnya, ternyata ada 2 faktor besar yang melandasi mengapa perlu adanya kenaikan gaji. (Gaji dalam artian umum sebagai take home pay, termasuk di dalamnya komponen tunjangan hidup dan tunjangan lainnya).

Dua Faktor besar ini adalah: (1) faktor internal; yaitu faktor yang mendorong “kesadaran” dari internal perusahaan; dan (2) faktor eksternal; yaitu faktor dari luar yang “memaksa” perusahaan untuk mengambil langkah dan kebijakan soal kenaikan gaji.

Sebuah perusahaan perlu meninjau kembali kebijakan besar nilai gaji bagi karyawannya atas beberapa pertimbangan faktor eksternal ekonomi makro regional yang ada. Diantaranya angka inflasi, kondisi politik dan keamanan serta keterjangkauan daerah.

Secara alami, dalam kondisi inflasi,  gaji yang diterima oleh karyawan nilai intrinsiknya dibanding harga barang di pasaran lebih rendah sehingga menyebabkan daya beli karyawan jadi menurun. 2 Juta uang yang diterimanya bisa saja tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan dasar hidupnya lagi. Demikian juga kondisi politik dan keamanan suatu wilayah juga akan menyebabkan kondisi demand-supply sebuah barang atau jasa tidak lagi ideal. Harga barang dan jasa bisa merangkak tajam. Sementara keterjangkauan daerah yang disebabkan oleh kondisi geografis dan infrastruktur juga bisa menyebabkan kondisi yang tidak jauh berbeda. Hal ini harus menjadi pertimbangan tersendiri bagi manajemen dan siapa pun yang mengelola hajat hidup karyawannya. Penyesuaian mutlak dilakukan!

Sementara itu, terlepas dari kondisi dan faktor eksternal di atas, sebuah perusahaan layak menaikkan gaji karyawan secara personal/individu, adalah atas 2 pertimbangan.

Yang pertama adalah sistem remunerasi yang berlaku dan yang kedua adalah kebijakan mandiri dari manajemen itu sendiri yang diputuskan atas pertimbangan kondisi financial performance perusahaan dan iklim pasar pada industri yang digeluti. Faktor yang kedua, disebut sebagai kebijakan mandiri, tentu memang berangkat dari kesadaran dan kebaikan hati manajemen sendiri atas kondisi financial performance perusahaan. Contohnya adalah kebijakan CEO Lenovo yang tiba-tiba memutuskan untuk memberikan bonus kepada karyawannya. Manajemen semacam ini mungkin menerapkan kata-kata sakti: Employees come number ONE, customers come number TWO. If you have a happy workforce, they’ll look after your customers anyway.

Nah, ketika kita berbicara soal sistem remunerasi sebagai faktor pertama penentu kenaikan gaji seseorang, maka idealnya ada 2 faktor penentu; yang pertama adalah berdasarkan kompetensi atau keahlian/kecakapan individu dan yang kedua adalah berdasarkan performansi/kinerja atau KPI (Key Performance Index) yang diraihnya.

Maka seharusnya orang yang memiliki kompetensi dengan yang tidak berkompentensi akan memiliki perbedaan besaran gaji, termasuk orang yang kinerjanya bagus dengan yang pas-pasan juga harus ada perbedaan yang signifikan. Inilah azas keadilan. Kompetensi adalah hal lain, sementara kinerja adalah faktor penilaian yang lain. Sepatutnya tidak disamakan atau dicampur baur. Sehingga karyawan yang berkompetensi sekaligus baik kinerjanya akan jauh berbeda dengan orang yang tidak berkompetensi alias tidak memiliki kecakapan, sekaligus berkinerja buruk.

Lalu bagaimana jika setelah kita dalami kedua faktor besar diatas, baik internal maupun eksternal telah terpenuhi untuk mendorong sebuah perusahaan untuk menerapkan kebijakan kenaikan gaji ternyata tidak direspon positif?

Demo!?

Nanti dulu Bro! 🙂

Di sinilah peran kita memahami faktor-faktor di atas. Ada beberapa landscape yang perlu cermat ditelaah. Apalagi kita pahami bahwa bekerja bukan soal uang semata.

Ada pula anggapan miring, kalau ada sekelompok karyawan menuntut kenaikan gaji, dipastikan ini adalah golongan orang-orang tamak, rakus nan tidak kenal syukur. Waduh! kasian amat! 🙂

Syukur, sabar dan qonaah mestinya tidak dibenturkan dengan upaya perjuangan kita menegakkan keadilan dan kesetaraan antara hak-kewajiban.

Syukur, sabar dan qonaah harus menjadi satu sisi mata uang yang sama dimana sisi yang lain adalah keadilan dan kebenaran.

Image

Dengan demikian ketika prinsip keadilan dalam hubungan pekerja dan majikan belum terwujud dan hak-hak buruh yang semstinya belum terpenuhi secara kontinyu sementara pemerintah belum menjalankan perannya dalam hal ini maka para buruh, karyawan dan pegawai diperkenankan Islam untuk menuntut hak-hak mereka secara proporsional, adil, arif dan bijak bahkan hukumnya dapat menjadi wajib bila dikaitkan dengan penegakan kebenaran, mencegah kerusakan serta memberantas kedazaliman dan kemungkaran tanpa ditunggangi oleh kepentingan lain ataupun pretensi diluar haknya (QS. Al-Baqarah:251, An-Nahl:90-91, Ali Imran:104). Ini dalam kacamata Islam.

Jadi menuntut hak dengan cara yang “hak” adalah prinsip lain yang harus dijalankan oleh siapa pun. Baik manajemen dan karyawan.

Maka, berhitunglah secara cermat, kalkulasikan angka dengan tepat, dan mari kita bersabar atas apa yang menurut pandangan kita baik, padahal belum tentu baik pula dalam pandangan yang memiliki hidup ini. Happiness not only about “sum” or “multiplication” but mathematics; sometimes plus and the other time is minus.

Semoga manajemen dan karyawan bisa bersepakat dalam kebaikan sehingga keberkahan menjalar, runtuh dari langit dan mencuat dari bawah bumi..  Mari berjuang demi keadilan dan keberkahan!

-wallahu’alam-

.:salam spektakuler:.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s