99 Ideas for Happy Worker: “Ngantor Cukup Pake Kolor”

image

Secara tekstual–tanpa memperhatikan kaidah gramatikal, dengan bantuan google translate judul di atas sebelumnya ingin saya bubuhkan adalah “working in mobile” atau diartikan dengan: “Bekerja di Ponsel”.

Sejak teknologi smartphone terus berkembang pesat disertai kemampuan multitasking dan beragam aplikasinya, ditambah dengan harganya yang kian terjangkau, kini tidak hanya mampu menciptakan genre generasi gadget freak saja, tetapi mulai memunculkan kelompok pekerja-pekerja freeliner yang enjoy dengan dunianya sambil bilang: “Ngantor tak perlu harus di depan monitor…. Ngantor cukup hanya pakai kolor” mirip iklan rokok versi ngantor  yang kerap muncul di layar televisi itu.

Sebagai orang yang bekerja di belakang layar industri jasa layanan komunikasi bergerak saya memang harus membiasakan bekerja 100% menggunakan smartphone saat bergerak atau saat on site melakukan pengecekan sinyal dan kondisi network, sementara saat relatif berada di kantor (on desk) harus bisa membiasakan 50-70% melakukan kegiatan terkait pekerjaan dengan smartphone. Ya, smartphone bukan tablet karena fungsi teleponinya harus tetap ada.

Pakem one single gadget itu pun harus diupayakan.

Ini memang semacam proyek “iseng” pribadi… saya sedang memaksa pada limit batas akhir sampai pada kondisi apa, dan bagaimana, kemudian saya harus terpaksa dan dipaksa memiliki lebih dari satu gadget/smartphone.

Tentu sebagai orang yang bekerja di sebuah perusahaan yang memiliki visi menuju best leading trusted solution mobile life style, saya  harus bisa memberikan model terbaik bagaimana menjadikan piranti kecil disaku atau di tas kita ini menjadi begitu powerfull.

Nyatanya memang masih sulit. Dalam satu bulan biasanya saya dan tim akan terjun ke site ke beberapa wilayah diantara 5 kabupaten/kota yang kami kelola jaringannya, memastikan hasil maintenance site, melakukan user experiences di beberapa simpul pasar dan dari pengalaman tidak semua email dan request pekerjaan dapat secara real time kami respon secepat dan sesegera mungkin, diluar tentu perlu pengolahan data dan sebagainya.

Dari belum terbiasanya pada layar sentuh berukuran di kisaran 5-7 inchi, jari-jemari yang relatif besar bak jempol berjajar lalu belum lagi masalah power consumption yang luar biasa. Di saku atau di tas harus ada 1 atau lebih power bank kapasitas besar. Ditambah keterbatasan space memory yang masih belum bisa mengungguli laptop atau notebook sehingga keberadaannya dalam memenuhi kebutuhan official memang baru sekedar substitusi saat bergerak dan komplementer saat statis.

Menarik jika kelak kita pun bisa bilang: “Ngantor tak perlu harus di depan monitor…. Ngantor cukup pakai kolor” sambil tetap attach dan terikat pada tabel-tabel report, diskusi email dan line chat atau sesekali video conference menggunakan jaringan broadband milik kantor sendiri sementara anda sedang menuju ke gunung bromo di jalur penanjakan mengayuh sepeda, sementara boss anda sedang ada di Raja Empat Papua Barat dan kolega lain anda sedang di Wisma Mulia Gatot Subroto. All connected, timeless, borderless, … dengan smartphone–dengan gadget ponsel di saku!

Bagaimana menurut anda?

.;salam spektakuler:.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s