99 Ideas for Happy Worker: Ulang Tahun

image

Milad, anniversary, hari ulang tahun atau perayaan hari jadi selalu menjadi polemik bagi saya.

Setidaknya gamang pada ide tentang apa kita merayakan? Tentang usia yang bertambah? Padahal bertambah usia sebenarnya berkurang jatah hidup?

Tentang prestasi makin tumbuh dewasa? Ah,…yang bener? Makin tua iya, bijaksana belum tentu. Atau cara kita bersyukur? Ah, baca lagi deh definisi bersyukur dalam literasi agama (Islam)…

Bersyukur sangat berbeda dengan hura-hura, dan kesenangan terlampau batas…

Seperti menjadi konsensi atau hukum resmi tidak tertulis setiap rekan kerja kami yang berulang tahun secara bergilir, ia akan mentraktir sahabat-sahabatnya sebagai bentuk syukur.

Makan-makan bersama di suatu tempat sambil bercengkrama akrab. Suasana menyenangkan penuh kegembiraan dan keakraban. Padahal mestinya makan-makan bersama kan tak mesti saat memperingati hari lahir. Tapi memang, kadang kita perlu semacam momentum dan “alasan” dasar agar kemudian menjadi pengingat.

Mestinya kan justru sedih donk, karena jatah hidup berkurang tapi bekal amal tak satu pun menjadi penjamin selamat di hari pengadilan nanti… Astaghfirullah…

Saya tak sedang ingin menghakimi soal perdebatan layak atau tidak kita merayakan ulang tahun. Itu ada sesi sendiri. Dan kalau mau saklek, dulu kanjeng nabi gak pernah potong tumpeng tiap 12 Rabiul Awal koq. Hehehe…

Oke,… maka mestinya saat ulang tahun adalah saat yang tepat kita mengukur jejak perjalanan hidup kita. That’s it! Tentang guratan langkah apakah termasuk amal sholeh atau justru menyelisihi amanah hidup.

Dan lagi, satu yang tak boleh lupa… saat ulang tahun adalah saat kita harusnya bersimpuh pada ibunda tercinta karena pada hari itu, belasan atau puluhan tahun silam sebelumnya ia pernah mempertaruhkan diri antara hidup dan mati melahirkan kita hingga kita seperti ini, tanpa pernah ia mendapat warranty bahwa anaknya ini akan menjadi anak yang berbakti atau justru sebaliknya. Ia hanya melaksanakan amanah suci sebagai perantara lahirnya seorang manusia generasi penerus.

Jadi satu-satunya alasan kuat kita untuk ber”gembira” pada hari peringatan kelahiran kita—(meskipun setiap hari, syukur kita atas karunia-Nya yang tiada terbilang mestinya tak boleh sirna)– adalah: orang tua kita.. terutama ibunda kita. Doakan kebaikan selalu untuknya, baginya, selalu…

Lalu salahkah jika kita mentraktir teman saat bertepatan dengan peringatan hari lahir? Menjadi “salah” kalau niatnya salah. Apalagi sekedar ekspresi kegembiraan berlebihan, sedangkan berlebihan dan tidak pada tempatnya itu sikap yang tidak dibenarkan oleh agama… sayang bukan?

Maka jalan tengah yang biasa saya ambil adalah: niatkan saja untuk sedekah dan memberi hadiah atas kebersamaan yang ada pada sahabat, kolega dan rekan, sebagai tanda perekat dan pengikat hati agar kian terjalin pilinannya. Sebagai bukti cinta, begitu istilahnya…

Dan agar berselisih dengan kebiasan orang kebanyakan lakukanlah di hari yang berbeda H-1 atau H+1 misalkan. Sehingga dapat dihukumi kita tidak sedang menyerupai kaum yang “lain” itu.

Wallahu a’lam.

.:salam spektakuler:.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s