99 Ideas for Happy Worker: E.S.O.P

image

Bagai disambar gledek di siang hari, tiba-tiba parent company perusahaan tempat saya berkarya mengeluarkan kebijakan yang menurut sebagian karyawan mengejutkan lagi mencengangkan.

Setelah sejak lama wacana ini digulirkan dan diperjuangkan akhirnya kini jadi kenyataan.

Meski selama ini saya termasuk yang pasif bersuara seputar ESOP, karena menilai bahwa wacana ini masih tak sepenting seperti hal-hal terkait soal remunerasi dan asuransi kesehatan di hari tua, dan juga masih banyak yang memperdebatkan soal mekanisme pembeliannya. Namun hal tersebut bagi saya tak menjadi soal. Itu perkara teknis dan tak menjadi sesuatu yang merisaukan.

Persoalan yang mendasar tentu adalah bagaimana pandangan Islam dalam menghukumi jual-beli saham dan pasar modal itu sendiri.

Bagi saya ini wilayah abu-abu. Subhat sampai terang benderang bagaimana hukum yang shahih atasnya.

Saat kau berselisih paham dan ragu atas hukum syariat dalam agamamu pd satu perihal? Sedangkan kedangkalan ilmu nyata ada dalam diri. Apa lakumu?

Begitu kemudian saya tumpahkan kegundahan di timeline twitter.

Googling dan mencari referensi pendapat, bertanya pada orang alim yang faqih darimu. Membaca literatur terpercaya. Apakah cukup?

Maka yang kita cari adalah sebuah ketenangan batin atas putusan yang kita ambil. Itulah sebuah kehormatan bagi kita.

دع ما يريبك إلى ما لا يريبك

“Tinggalkanlah suatu yang meragukanmu menuju kepada hal yang tidak meragukanmu.” (Hadits shahih riwayat Imam Ahmad, An-Nasa’i, At-Tirmidzy, dan lain-lain).

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits lainnya,

من اتقى الشُّبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه

“Barang siapa menghindari syubhat, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

Sempat berdiskusi langsung dengan beberapa senior yang saya yakini memiliki kefaqihan ilmu. Nyatanya memang kita selalu dihadapkan oleh 2 pendapat yang berbeda.

Maka semua kembali pada lakumu. Kita harus hormati atas beda pendapat yang ada selama masing-masing memiliki hujah yang jelas dan berlandas.

Yang kita harap tentu adalah harta yang bertambah bukan pada jumlah semata, namun lebih dari itu, adalah: BERKAH.

BERKAH tidak diukur dengan angka dan deretan digit. Ia hadir manakala ada kebaikan yang bertambah. Bukan pada materi semata.

Tetapi, tambah ilmu, tambah ketakwaan-ketaatan, dan tambah ketentraman hidup….

.:salam spektakuler:.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s