99 Ideas for Happy Worker: Irrelevance!

 

image

Hujan lebat menghalangi pandangan. Dingin menusuk. Jalan berlumpur terjal dan gelap. Lengkap sudah kesulitannya. Padahal setengah jam lalu ia masih bisa berkemul selimut dengan tangan istri melingkar di leher.

Kehangatan yang kemudian sirna hanya karena sebuah telpon panggilan darurat mengharuskannya turun ke site menembus pekat malam hari nan dingin. Hanya untuk menaikan breaker mcb kwhmeter. Untungnya lalu selesai. Lain lagi jika harus berjaga semalaman untuk sebuah aktivitas lain.

Mungkin masih banyak kisah heroik lainnya, seperti para penjaga mercusuar atau di tapal batas negeri berjaga dan menjaga di sudut terpencil nan terkucil.

Apa yang menggerakkannya? Bonus besar? Kenaikan gaji dan pangkat berkala atau insentif kejut per-3 bulanan?

Mungkin saja sebagian benar, ada tarikan dan dorongan eksentris yang menyebabkan orang mampu tergerak dan termotivasi. Namun seberapa kuat dan tahan?

Padahal banyak yang tanpa janji dan bonus seperti itu, orang-orang lain di jauh sana bisa melakukan tindakan dan kerja-kerja dalam kesunyian yang dianggap remeh, kecil dan jauh dari puja-puji dan sorak-sorai gembira, tepuk tangan. Mengapa?

Kekuatan dan dorongan besar itu hadir karena adanya kesadaran bahwa kerja-kerja remeh yang mereka lakukan itu memiliki relevansi terhadap hal yang jauuuuuuh lebih “BESAR” dari mereka.

Mereka sadar kerja-kerja dalam kesunyiannya itu memiliki korelasi pada nilai dan tujuan hidupnya. Ada manfaat yang membuat kehadiran mereka meski tak diakui justru begitu berarti dan vital. Eksistensi, kawan.

Itulah “relevance” lawan kata “irrelevance” yang menjadi salah satu factor yang dirumuskan Patrick Lencioni dalam buku “The Three Sign of Miserable Job.” Ketika orang sudah bisa menghilangkan faktor irrelevance dalam kerja, maka menurutnya, sesulit apa pun pekerjaan, ia akan tetap bisa bertahan meski awalnya tanpa cinta dan penuh keterpaksaan.

“Bekerjalah kalian, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat amal-amal kalian itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberikanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (9:105)

Maka bekerjalah, beramal-lah. Kita bekerja, kita beramal karena bekerja dan beramal adalah bentuk kesyukuran yang terindah.

Seperti firmanNya:
“Bekerjalah hai keluarga Dawud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali diantara hambaKu yang pandai bersyukur” (34:13).

Selamat bekerja, selamat bersyukur!

.:salam spektakuler:.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s