99 Ideas for Happy Worker: Sukses Vs. BAHAGIA

Memo_20130119_233655_01

Kali ini tulisan saya akan mengulas singkat seputar tema menarik yang diangkat pada sebuah acara tabligh akbar kemarin.

Dan sekali lagi, tulisan ini adalah upaya saya mengikat ilmu agar dapat lestari dan tentu berharap pula menuai manfaat. Tidak hilang begitu saja.

Mana yang lebih utama? sukses dulu atau bahagia dahulu?

Pertanyaan yang singkat namun menarik tuk didalami. Kita sukses dulu baru bisa bahagia? atau kita bahagia dulu baru sukses?

Apa gambaran sederhana dan umum tentang kata “sukses”?

Bagi kebanyakan dari kita, kata “sukses” biasanya dapat diartikan dengan atribut seperti: mobil mewah, rumah megah, jabatan dan kekuasaan, gelar berderet, kedudukan dan popularitas serta capaian-capaian lainnya.

Seperti pada umumnya sering kita dengar di warung-warung kopi Melayu pesisir: “Woooa.. die tu dah sukses daaa.. punya oto, rumah pon ada dimane-mane, jabatannye pon dah tinggi pulaaa…”

Lantas apakah kesuksesan semacam itu kemudian bisa menghadirkan kebahagiaan? Jawabnya bisa iya bisa juga tidak. Tidak ada jaminan bahwa sukses itu bisa menghadirkan kebahagiaan.

“Ayah! bunda akan bahagia kalau kita bisa punya rumah megah type dua satu.”

“Ah, gampang itu…” timpal sang ayah.

“Bukan ituuuu! [sambil bibirnya monyong 5 senti, manja] maksudnyaaaa, 2 lantai dan 1 kolam renaaang”. Susul sang istri genit.

“Hah…!?!?”

….

Akhirnya, demi membahagiakan istri tercinta, sang suami pun bekerja siang-malam, 24-7, 24 jam per 7 hari dalam seminggu, banting tulang peras keringat, kepala di bawah, kaki di atas.

Bertahun-tahun kemudian, akhirnya keinginan istrinya terwujud. Mereka memiliki rumah besar dengan 2 lantai dan 1 kolam renang.

Apakah kemudian sang istri bahagia? ya, sebentar saja ia bahagia. Bahagia yang semu, karena setelah itu ia pun dirisaukan dengan keinginan bagaimana agar rumahnya tidak tampak kosong, ia perlu perabot yang sesuai, lalu karena besar maka ia perlu pembantu yang mungkin tidak cukup satu, lalu karena kolam renangnya cukup besar pula, maka ia pun membutuhkan tenaga perawatan kolam dan sebagainya. Tak cukup sampai disitu, karena besar dan perabotnya banyak ia perlu sistem pengamanan yang baik agar tidak ada orang yang mencuri hartanya. Dan seterusnya dan seterusnya… Apakah ia bisa tetap bahagia? lalu kemana bahagia itu sejatinya?

Masihkah kita percaya bahwa kita harus sukses dulu baru bisa bahagia?

Begitu pun di dunia kerja. Sukses meraih jabatan baru kadang kala belum tentu membawa kita pada kebahagiaan yang dicari. Jabatan baru, berarti tantangan baru dan yang pasti memerlukan kaki yang harus siap berlari lebih kencang, tangan yang lebih tangkas, keinginan dan kemauan yang lebih keras dan siap untuk berbenturan dengan perubahan yang kadang menyulitkan. Jika kita mampu dan siap, sukses belum tentu dapat diraih, apalagi menggapai bahagia.

Tanggung jawab yang lebih besar, membutuhkan pundak dan punggung yang lebih kokoh. Jika alasan kita berlari mengejar jabatan hanya dan hanya untuk mengejar predikat, pengakuan orang dan angka rekening bank yang membesar, yakinlah kita tak akan meraih kebahagiaan.

Orang sukses belum tentu bahagia, tetapi orang bahagia sudah pasti sukses.

Ya… tentu saja karena ia punya ukuran yang sederhana saja. Bahagia bukan terletak di antara rumah besar nan berpagar tinggi atau jabatan dan karir puncak.

Hidup bahagia itu bukan sekedar bisa tersenyum, tetapi bagaimana menerima situasi apapun dengan penuh syukur dan sabar. Begitu guru saya berujar kala itu.

Bahagia itu hak semua orang, miskin dan kaya mereka semua bisa bahagia. Dan ukurannya bukan dimana-mana…

Bahagia itu ada di sini.. di hati kita yang dipenuhi dengan rasa syukur dan sabar.

.:salam spektakuler:.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s