99 Ideas for Happy Worker: Terlalu Banyak Merasa

Dalam sebuah kajian lintas kantor yang kebetulan saya dan rekan-rekan gelar bersama di lingkungan kantor Telkom Pontianak beberapa waktu lalu, ada sebuah kajian yang begitu menarik: “The 7 islamic Daily Habits”. Berangkat dari pemaknaan mendalam dari 7 ayat berulang yang minimal bagi sahabat muslim dibaca sebanyak 17 kali dalam sehari. Satu lagi pelajaran yang sepatutnya untuk senantiasa kita ingat dari guru kita kali ini, Ust. Harjani Hefni, M.A. penulis langsung buku tersebut.

Nah dalam kesempatan ini, saya tidak hendak membuat resume atau membedah buku tersebut. Tetapi ada sebuah pepatah arab yang cukup mengena di jantung kesadaran kita yang diangkat dalam salah satu halaman di buku tersebut.

“Terlalu banyak merasa akan kehilangan rasa”.

Dahulu, sewaktu masih kuliah, bayangan gaji 2 juta sebulan saat kerja nanti rasanya sudah sangat Ruarr biasa. Namun kini ketika sudah bekerja, gaji sebesar itu ternyata rasanya tak pernah cukup. 

Pokoknya kuraaaang aja… Astaghfirullah.

Apa yang salah?

Terlepas dari standar hidup yang mungkin berubah, dan tanggung jawab yang tidak lagi sama, tentu pasti ada sumber masalah lain yang substansial yang telah menghilangkan kenikmatan tersebut, ketika berapa pun angka yang tercatat di rekening selalu terasa kurang saja.

Kita sering berucap Alhamdulillah berulang-ulang dalam sehari, atas kenikmatan dan kenyamanan yang kita terima, namun sejauh mana lisan berucap tersebut mampu menggerakkan komitmen kita untuk menjadikan dan memanfaatkan nikmat tersebut sebaik-baiknya sesuai tuntunan Sang Maha Pemberi?

Mari kita mengukur dan menginsafi diri ini.

Maka mungkin itulah mengapa Allah jadikan bahagia, senang, gembira, suka dan duka berputar silih berganti dalam rentang kehidupan kita. Agar semata-mata kita kembali bisa “diingatkan” dan “merasa” betapa nikmat dan karunia Allah itu begitu besar dan tiada terhingga.

Bahkan dalam setiap musibah senantiasa terkandung hikmah kebijaksanaan yang boleh jadi buruk dalam pandangan kita saat itu, namun justru jauh lebih baik dalam pandangan Allah SWT sang Pembuat skenario hidup kita.

Bukankah, kenikmatan itu akan terasa setelah ia hilang dari genggaman?

Dengan hilangnya kenikmatan demikian justru kita kembali disadarkan untuk menginsafi diri bahwa apa yang kita miliki ini adalah sekedar pemberian. Dan lebihnya lagi, terkadang pemberian yang sama sekali tidak tersebut dalam doa pinta kita. Tetapi Allah SWT telah memberikannya sebelum kita pinta.

Jadi…

Ternyata satu hal yang mulai menipis pada diri saya, keyakinan dan kesyukuran. Keyakinan atas rezeki yang tidak akan salah diberikan. Keyakinan atas rezeki yang tidak akan lari. Kesyukuran atas apapun dan berapapun yang dimiliki saat ini.


Selain itu, pesan dalam pribahasa ini adalah tentang tidak baiknya sesuatu yang BERLEBIHAN. Sesuatu yang berada di luar takaran dan dosis yang wajar akan menyebabkan ketidakseimbangan dan justru menimbulkan kerusakan pada akhirnya. 

Maka cukup tentu adalah kata kuncinya.

Bisa saja yang diberikan tidak banyak, tapi rasa dan dampaknya berbeda jika kita mampu men”cukup“kan dengan syukur. Dan bisa saja yang diberikan pada kita berbeda dari apa yang diharap hati, tapi rasanya jauh melampaui. Di situlah yang kita namakan Barakah.

.:salam spektakuler:.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s