99 Ideas for Happy Worker: Ikhlas Itu Rela Tanpa Paksaan?

Ikhlas, kata yang tak mudah dan selalu menyisakan tanya

Dan Kita adalah manusia

Yang tak dapat tidak

Suka menuliskan kebajikan-kebajikan kita

Maka aku menuliskan kebajikan di atas air

Menjadi gelombang kecil, kecil saja

di permukaan, meriak dan (lalu) menghilang

lalu yang tampak hanya wajahku kehausan

Atau terkadang kutulis ia di atas pasir

Agar angin keikhlasan menerbangkannya jauh dari ingatan

Agar ia terhapus, menyebar bersama butir pasir ketulusan

Begitu indah Salim A Fillah membebas makna ikhlas. 

Sungguh dalam bukunya itu saya tersadar bahwa ikhlas itu bukanlah sesuatu yang selalu kita lakukan dengan penuh rasa ringan dan nyaman. Karena ikhlas bisa saja tumbuh dari kerja-kerja berat mengalahkan nafsu diri.

Berat penuh perjuangan. “Pengorbanan”, kita menyebutnya.

Maka sungguh tak pantas kita menghakimi orang-orang yang menampakkan rasa berat dalam bekerja dan beramal sebagai orang yang tak ikhlas. 

“Ajruki ‘alaa qadri nashaabik!”, Kata nabi pada putrinya, ‘Aisyah. “Pahalamu senilai dengan kadar payahmu”.

Atau kita selalu menganggap bahwa orang yang ikhlas itu selalu mencintai apa yang dikerjakannya? 

Mungkin benar jika kita memakna kata “mencintai” sebagai sebuah proses. Dimana awalnya tak serta merta ada cinta. Bisa saja awalnya biasa saja,… lalu lama-lama karena paham dan kenal maka witing trisno jalaran soko kulino.

Dalam hal aturan dan perintah, bisa saja pertama diinformasikan dahulu, dihimbau, dianjurkan dulu lalu dipaksa dan diharuskan.

Mula-mula seringkali tidak mudah untuk cinta pada apa yang kita lakukan meski kita tahu bahwa hal itu adalah kebaikan.

Tetapi ketika orang-orang ini melakukan keterpaksaan kerja dan amal tersebut karena ada tujuan suci, maka kemudian mereka berjuang untuk ikhlas semata-mata karena apa yang mereka lakukan adalah kebaikan dan diperintahkan oleh Dzat yang paling layak mereka cintai; yang telah memberikan kehidupan ini; maka disitulah kita bisa memaknainya sebagai proses. Dan sejatinya ikhlas itu adalah “proses” yang terletak dari sejak awal, ditengah dan dipenghujungnya.

Adakah seorang yang ikhlas itu selalu tenang, ataukah dia gelisah?

Pada sebuah jiwa yang sadar akan siapa dirinya dan ke mana ia hendak menuju, keikhlasan kadang disertai kegelisahan, dan ketakutan. Apakah kerja dan amal kita ini sejatinya telah purna atau sekedar bujuk rayu yang menghentikan langkah kita untuk terus memupuk dan menumbuhkan ikhlas bersama kerja-kerja dan amal kita?

Kegelisahan yang setia pada keikhlasan adalah kegelisahan yang melahirkan langkah-langkah besar untuk berbuat lebih dan lebih lagi. Terus semakin baik dan semakin sempurna. Berlomba-lomba.

Ikhlas justru bermakna sebuah perjalanan. Perjalanan untuk menemukannya…

Maka ikhlas adalah perjuangan dalam beramal dan kerja… terbebas antara berat atau ringan, sulit atau mudah, suka atau tidak suka, gelisah atau riang karena tujuannya hanyalah balasan dari-Nya. Dari Sang Pemberi Kehidupan.

-wallahu’alam

.:salam spektakuler:.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s