99 Ideas for Happy Worker: Bersabar Vs. Pasrah

Apakah kesabaran itu ada batasnya?

“Ah.. saya sabar saja lah.. toh nanti datang juga saat yang tepat bagi kita” Begitu kata seorang sahabat.

Atau dikesempatan lain kita kerap mendengar, “Ah,.. biar saja ia bersikap seperti itu, saya terima apa adanya… saya sabar ajalaah” 

Benarkah sabar selalu tepat diartikan dengan makna ”nrimo ing pandum” ?

Ada tiga kategori yang dituntunkan dalam kitab suci, Al Quran. Ketiganya adalah:

  • sabar dalam menghadapi musibah dan ujian, 
  • sabar dalam ketaatan 
  • dan sabar untuk menjauhi kemaksiatan.

Maka seringkali kesabaran sejati tak selalu berarti menanti. Karena sabar sejati adalah sabar dalam ketaatan, untuk tak durhaka dan untuk menghadapi ujian-ujian yang jatuh menimpa di antara keduanya.

Lalu apakah sabar itu diam saja, yang tak pernah marah dan selalu lemah lembut?

Maka ingin saya katakan, bahwa demikian pula sabar itu bukanlah yang diam dan yang tak pernah marah. Karena toh ternyata masih ada “marah” yang dibenarkan dan diterima sebagai bentuk ketegasan dan kesungguhan dalam membela kebenaran (al haq).

Sebagaimana juga pesan Nabi, “Belalah saudaramu dalam keadaan terdzalimi maupun mendzalimi.” Kalimat ini sejatinya merupakan prinsip Arab eksrepsi kejahiliyahan masyarakat gurun ketika itu dimana ikatan persaudaraan dan pakta kesetiaan pada kesukuan dan kabilah mengangkangi prinsip-prinsip kebenaran. Tidak peduli salah dan benar, selama ia adalah orang yang harus dibela maka nyawa pun siap dipertaruhkan.

Pembelaan yang salah kaprah ini kemudian diluruskan. Bahwa “membela orang yang mendzalimi” adalah melakukan segenap cara dan daya agar saudara kita bisa terhindari dari sikap mendzalimi orang lain. Langkahnya bisa dengan menasehati secara langsung, mengingatkan dan menegur sesuai dengan kapasitas kita baik dengan lisan, dengan tangan dan selemah-lemahnya iman adalah dengan menyelisihkannya di dalam hati. 

Maka sabar itu memang bukan hanya diam dan mengalir seperti air. Lupakah bahwa air itu mengalir selalu ke tempat yang lebih rendah?

Maka dalam sabar juga ada ikhtiar sungguh-sungguh, kita bisa lari dari takdir satu ke takdir yang lain, berusaha mengejar takdir terbaik dari-Nya dengan takdir dari Allah pula.

Maka sabar dan syukur berbaur dalam satu adonan, dipanggang dalam panci keikhlasan, maka roti kehidupan kita ini akan terasa sangat lezat…

Bukan begitu, bukan?!?

.:salam spektakuler:.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s