99 Ideas for Happy Worker: Di Mana Letak Kebahagiaan?

Going to 99 Ideas for Happy Worker: Di Mana Letak Kebahagiaan?

Happines: a chemical compound that effects brain processes that control emotional response and ability to experience pleasure, desire and motivation. 

Senyawa dalam tubuh untuk mewakili kebahagiaan atau kesenangan adalah: hormon dopamine.

Begitulah riset kecil-kecil yang saya lakukan dengan bantuan mbah google. 

Di situkah letak kebahagiaan?

Dalam perjalanan dinas kali dua hari terakhir ini, saya banyak menghabisi lembar demi lembar sebuah buku yang saya beli beberapa hari lalu di gerai buku terbesar di Kota Pontianak. Judulnya: “The Geography of Bliss”.

Peta Kebahagiaan. Wow… Sebuah buku yang ditulis oleh seorang jurnalis senior kawakan dari Amerika; seorang penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara yang paling membahagiaan dan bisa menjelaskan apa itu “kebahagiaan”.

Menarik sekali karena buku ini sangat sesuai dengan beberapa kata kunci passion saya: traveling, jurnalistik, psikologi, dan sosiologi. Dan ternyata sangat relevan dengan proyek kecil saya tentang idea-idea renik bagaimana menjadi seorang karyawan atau pekerja yang selalu happy. 

Buku yang kemudian menuai banyak absurditas dan hukum relativitas yang penuh ironi, paradoks dan ambivalensi tentang pemaknaan kata bahagia dari setiap orang.

Saat ia berada di Belanda, maka ia menyimpulkan bahwa kebahagiaan adalah angka. Saat ia berada di Swiss, kebahagiaan adalah kebosanan. Saat dirinya tinggal beberapa waktu di Bhutan, maka ia mendapatkan kata kunci, kebahagiaan adalah kebijakan. Saat kemudian ia berada di Qatar, ia simpulkan bahwa kebahagiaan adalah menang lotre. Saat di Islandia, ia katakan bahwa kebahagiaan adalah kegagalan. Maldova: “kebahagiaan adalah berada di suatu tempat lain”, Thailand: “kebahagiaan adalah tidak berpikir”, Britania Raya: Kebahagiaan adalah karya yang sedang berlangsung”, India: “kebahagiaan adalah kontradiksi”, Amerika: “kebahagiaan adalah rumah”. —wajarlah karena ia orang Amerika; mungkin pun kita berlaku demikian saat kita telah jauh dari kampung halaman. Sayangnya ia tidak sempat berkunjung ke Indonesia. Entah apa yang ia akan simpulkan tentang kata kebahagiaan ketika ia mengunjung negeri elok nan rupawan ini… 

Sungguh ini seperti sebuah permainan puzzle kata-kata.

Dalam buku itu diceritakan bahwa Swiss sebagai salah satu negara dengan kondisi paling ideal di Eropa: tingkat kesejahteraan yang di atas rata-rata, lebih banyak hari libur, tunjangan kesehatan dan hari tua yang memadai dan fasilitas umum yang luar biasa eloknya, toh ternyata tingkat bunuh dirinya tetap tinggi. Juga seperti Jepang misalkan, yang memiliki PDB jauh lebih tinggi dari negeri kita. Fakta ini kemudian membuktikan bahwa kekayaan dan kemajuan materi tidak selalu berjalan seiringan, equivalen dan sejajar garis lurus dengan kebahagiaan dan kesenangan.

Pada fase awal mungkian “IYA”… namun pada kondisi dan level tertentu pada akhirnya faktor kemajuan materi tidak lagi mampu menjaga nilai kebahagiaan sejati.

Lalu bagaimana selanjutnya?

Sungguh mudah. Kata kuncinya tentu semua kita tahu. Ada nilai-nilai spiritual yang hilang: Syukur dansabar yang bagai koin mata uang yang sisinya saling melengkapi.

Maka tulisan tentang happy ini adalah lebih tentang bagaimana kita membangun mindset untuk Senantiasa me”nyaman”kan hati. Dan menikmati setiap scenario yang Allah berikan. (dalam bahasa lain syukur+sabar menjadi nafas kita)

Happiness is here and now.

Intinya:

If you take the attitude that what you have is what you need to make you happy, you will happy!


Menurut Prof. Seligman ada 3 cara untuk hidup bahagia, pertama have a pleasent life, milikilah hidup yg menyenangkan. 

Tapi hati-hati dgn cara ini, bila tidak tepat bisa mengantarkan terjebak hedonic treadmill, semakin mencari kenikmatan semakin sulit bahagia. Contohnya, awalnya ingin punya mobil mewah, sudah punya satu masih kurang atau gak puas dgn merknya, akhirnya alih-alih bahagia, kita justru menjadi budak keinginan. Jadilah bahagia melayang jauh.

Cara yg kedua untuk bahagia adalah, have a good life. Terlibat dalam pekerjaan & berhubungan dengan orang2 positif. Bila sudah terlibat dalam sebuah kegiatan orang ini flow (hanyut) merasa menjadi satu dengan kegiatan itu, ia bahagia terlibat. Berdasarkan fakta ini, orang yg bekerja dan dia sangat mencintai pekerjaannya maka hidupnya akan semakin bahagia. 

Namun biasanya orang-orang yang bekerja karena pelarian atau sekedar mencoba flow in dalam ikatan pertemanan dan pengaruh lingkungan dan bukan karena pilihan walau tampak bahagia sebenarnya hatinya gersang & gelisah

Cara ketiga untuk bahagia adalah have a meaning full life, milikilah semangat melayani, berkontribusi & memberi manfaat. Orang-orang yang hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri kebahagiaan-nya semu, dia merasa sendiri ditengah keramaian.

begitulah pesannya, maka terlibatlah dalam berbagai kegiatan yg melayani, menolong dan mengangkat harkat dan martabat manusia maka kau semakin bahagia. Dan bila Anda selama ini lebih banyak tidak bahagia boleh jadi karena hidup Anda lebih banyak fokus pada diri sendiri. Yaa… pada diri sendiri saja.

Nabi dalam hal ini bersabda, ” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari).

.:salam spektakuler:.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s