99 Ideas for Happy Worker: Bukan Sekedar “Ability” Saja Tetapi “Adaptability”

Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Sesuatu yang tak pernah berubah adalah “adanya perubahan” itu sendiri. 

Dalam dunia kerja, perubahan manajemen dan pimpinan hingga direksi/CEO, perubahan kebijakan, perubahan strategi, perubahan habits, perubahan DNA, perubahan arah, perubahan lingkungan, perubahan kondisi dan perubahan kultur senantiasa tak bisa dihindari. 

If nothing ever changed, there’d be no butterflies.

Jika tidak ada perubahan, maka tidak akan ada kupu-kupu. 

Maka perubahan tak perlu dirisaukan karena ia-nya selalu kan terjadi. Yang sepatutnya kita risaukan apakah kita mampu beradaptasi terhadap setiap inchi dan jengkal perubahan yang terjadi.

Dalam bekerja, kemampuan memang sangat diperlukan, namun lebih dari sekedari kemampuan maka kesiapan beradaptasi adalah kunci sukses selanjutnya.

Kita mungkin perlu belajar dari sebuah perusahaan besar bernama KODAK, setelah menjadi pionir hingga penguasa pasar akhirnya menemui “ajalnya” di tahun 2012.

Dalam paparan yang menarik yang disampaikan oleh Sigit Kurniawan di salah satu rubrik di majalah The Marketeers, menuliskan bahwa Kodak sang raksasa yang terhempas arus digital hancur karena keterseokannya dalam menghadapi perubahan.

Persepsi yang mengatakan Kodak sama sekali tidak mau menyentuh teknologi digital tidak seluruhnya benar. Kesalahannya adalah karena Kodak lambat dan sekedar melakukan inovasi yang setengah-setengah, ditambah kurang cermatnya membaca tren baru.

Pisau analisis Arie de Gaus dalam buku “The Living Company” juga bisa digunakan untuk membedah kasus Kodak ini. Geus menandaskan agar sustain, perusahaan harus dipandang sebagai living being dan bukan melulu sebagai mesin penghasil uang.

Sebab itu perusahaan merupakan entitas hidup yang harus terus menerus belajar dalam merespon perubahan. Hanya dengan memposisikan diri sebagai “a learning organization” perusahaan akan sustain. Dari sisi ini, kemampuan beradaptasi jadi penting.

Demikian juga seorang individu.

Do not stop to learn because life is never stop to teaching us.

Memiliki porto-folio yang berisi core value dan purpose(of life) akan membuat kita mampu sustain di dalam era perubahan zaman yang tak terbendung ini. Rene Suhardono menyebutnya sebagai “portable equity”.

Integritas, track record, network dan skill menjadi bagian yang melengkapi modal kerja sehingga kita bisa diterima dan beradaptasi dengan baik hingga kemudian mampu mencapai tangga sustainable growth. Hermawan Kartajaya menyebutnya sebagai core winning characteristics.

Secara bodoh saja, saya menyimpulkan bahwa:

Sustain = adaptability + innovation + core value winning characteristics.

Maka: Change and action!

Dan tulisan ini memang lebih tepat untuk memotivasi diri siap menghadapi segala perubahan yang terjadi. 4 jari untuk diri dan hanya satu jari untuk kita semua.

Langkah pertamanya adalah: kemauan dan kesungguhan untuk BELAJAR.

go..go..go transform!

.:salam spektakuler:. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s