99 Ideas for Happy Worker: Taruh Saja Saya di Remote Area! Berani?

Sahabat happy worker, kali ini judul oret-oretan saya mungkin sedikit provokatif. hehe… 

Atau malah terkesan penuh nada ironi dan frustasi? tenang saja… ini sekedar luapan pikiran dan ide yang spontan keluar begitu saja ketika saya melihat fenomena kaum pekerja perantau yang saya kenal selalu bercita-cita bekerja “kembali” ke pusat peradaban bangsa ini, di sebuah pulau yang dikenal sebagai pulau terpadat di dunia: JAWA—walaupun beliau bukanlah orang penduduk asli, Javanese. Apalagi yang memang memiliki tautan historis dan ikatan darah dengan daratan Jawadwipa yang memiliki akar sejarah panjang itu. Bandung, Malang, Semarang, Solo, Jogjakarta, Magelang, Perwokerto, Brebes, dan masih banyak deretan kota-kota lain yang cukup nyaman untuk ditinggali.


Berdarah-darah di Daerah

Dalam milis kantor dan forum serikat pekerja dimana saya belajar menjadi seorang employee yang baik, selalu menjadi issue yang menarik jika membicarakan betapa luar biasanya rekan-rekan yang “terpaksa” menjadi first liner di daerah-daerah terpencil, remote bahkan area kecil yang kadang mendengarnya saja kita tak yakin nama daerah tersebut  ada di belahan dunia Indonesia yang mana ya?  hehe…

Salut saya, mendengar perjuangan mereka, dedikasi mereka dan bahkan tak jarang nyawa jadi taruhannya. Harus bermalam dan menembus hutan belantara, bertemu dengan penduduk asli yang kadang belum tentu bisa menerima pendatang, medan yang sulit. Menembus gelombang air laut yang kadang tak bersahabat, dikejar-kejar parang, badik, golok dan kawan-kawannya atau ancaman peluru dari OPM, GAM atau kaum milisi karbitan—(maaf) preman ber-nasionalisme sempit. Menikmati fasilitas transportasi seadanya: pesawat cassa 202 atau yang lebih imut lagi dengan mesin “baling-baling bambu” dua buah, berpenumpang 20 orang-dimana kokpit dan kabinnya hanya dibatasi gorden saja. [ahay… kalau ini saya pernah menikmatinya dalam kunjungan pertama ke Putusibau  6 tahun lebih yang lalu], Naik speed boat berjam-jam, dihempas gelombang laut atau berliku-liku di sungai yang berlabirin.  

 

Tak jarang pula harus menjadi bujang lokal karena tak tega membawa keluarga kecilnya harus turut serta tinggal di daerah terpencil. Dan.. dan segudang kisah heroik-heroisme, penuh kobaran semangat, dedikasi dan perjuangan tanpa kenal lelah. Romantisme kerja yang selalu menginspirasi, tentu. Rasanya satu buah lencana penghargaan tak cukup untuk menghormati betapa besar jasa-jasanya.

Namun dibalik haru biru kisah itu, ternyata ada banyak kisah dan curahan hati para “pejuang” itu yang sering mengeluhkan: minimnya perhatian dari management (padahal mungkin sudah mendapatkan kompensasi uang transportasi kembali ke base home setahun sekali misalkan, atau tunjangan hidup yang memang sudah disesuaikan), sulitnya menjadi representative office yang harus berperan ganda (kadang bekerjanya menjadi 26 jam sehari atau bahkan lebih.. wewwwh…), tidak ada banyak kesempatan berinteraksi dengan leader di kantor pusat, sekedar membangun kedekatan personal dengan para decision-maker. Ujung-ujungnya: karir mentogh, stagnasi dan merasa terabaikan. Benarkah?

Ditambah lagi jika ada hal-hal yang menyangkut masalah logistik kerja, mau tidak mau cash flow pribadi menjadi dana talangannya dulu. Oh.. merananya. Belum lagi sarana kesehatan, pendidikan dan hiburan yang mungkin juga sangat minim.

Terpencil namun Tak Terkucil

Lalu adakah caranya agar para pejuang-pejuang ini tidak menjadi demotivasi dan bahkan layu sebelum berkembang?

Setiap orang memang memiliki ketahanan mental yang berbeda. Namun tentu kita bisa mengupayakan dan menempanya seiring berjalan. Ada baiknya anda dan siapa saja yang memang mulai merasa kejenuhan dalam bekerja mencari “sesuatu yang lain dan berbeda” dari lingkungan sekitar tempat anda bekerja.

Cari hobby yang sesuai dengan alam dan kondisi tempat kita bekerja. Misalkan kalau kita kerja di daerah Maluku, sepertinya hobby diving atau mancing perlu kita coba!   Kalau anda misalkan punya bakat sebagai pengamat sosial atau sebagai natural tracker, boleh juga memuaskan hobby jalan-jalan anda. Tuangkan dalam tulisan dan seterusnya. Atau misalkan anda punya insting sebagai pemburu bayangan, boleh juga camera DSLR canon atau nikon menjadi senjata pembidik yang utama yang setia menemai penjelajahan anda.

Teruslah menjaga antusiasme anda dalam bekerja dengan mencari hal-hal yang unik dan khas dari daerah terpencil yang anda kuasai sekarang.. hehe…  

Saya sering berkelakar dengan rekan yang kebetulan ditempatkan di kantor pusat. Saya bilang, “Bersyukurlah kami yang berada di area, selalu saja ada kesempatan untuk keJakarta, nah,.. sampeyan?  Belum tentu bisa mengunjungi lokasi tempat saya yang nun jauh di sana bukan? Hehe”

Pengalaman geografis-demografi ini tentu bisa memperkaya wawasan dan cara anda memandang sebuah masalah atau kondisi. Akan ada banyak kesempatan untuk mendalami kearifan lokal dan keunikan masyarakat lainnya. Percayalah, pengalaman anda di tempat terpencil, remote dan nun jauh di sana suatu saat akan menjadi modal penting untuk mengungkit prestasi anda.

Kalau pun tidak di dunia kerja yang sekarang setidaknya anda berkesempatan memiliki banyak saudara, teman dan kolega di berbagai daerah. Wawasan global anda akan sangat berkembang.

“Hey, Saya disini baik-baik saja dan Berkembang!”

Mungkin ungkapan di atas bisa juga menjadi theme dalam setiap upaya anda melakukan “self branding” atau “personal branding”. Daripada anda mengeluh tiap saat di e-mail, atau di forum2 mail list kantor, atau bahkan  di situs jejaring sosial, mengapa tidak anda manfaatkan untuk menjadikan sarana narsisme itu sebagai media “speaker” yang efektif. Manfaatkan media-media seperti web, forum jejering sosial, atau blog sebagai gaya e-narcisme yang diharapkan mampu menunjukkan anda seperti apa.

Jadi, kalau ada dua tawaran mutasi kerja, anda saat ini bisa bilang: “Ke Papua?? Siapa takut.. asalkan,.. WANI PIROOOO? [thiiit] 

.:salam spektakuler:.

re-covering tulisan lawas di blog pribadi multiply

Advertisements

One thought on “99 Ideas for Happy Worker: Taruh Saja Saya di Remote Area! Berani?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s