99 Ideas for Happy Worker: Jalan Menuju Kepuasan

 [99 Ideas for Happy Worker: Jalan Menuju KEPUASAN] Ada yang menarik dari sebuah blog sahabat di tumblr. Diagram menarik itu kemudian saya gambar ulang dengan gaya khas saya tentu.  Diagram himpunan irisan yang mengungkap sebuah ide besar tentang bekerja tentang job, karir dan tentu tentang diri kita masing-masing. Diagram ini seperti sedang bercerita pilihan-pilihan hidup, tentang bagaimana seseorang mengisi kehidupan ini dengan perannya masing-masing.  Belasan tahun lalu (tentu ditambah sedikit beberapa tahun lalu) saya yang masih polos itu seringkali dengan penuh keyakinan menjawab ingin menjadi dokter! kala ada yang bertanya hendak jadi apa kelak. Alasannya? mungkin sederhana saja: terpandang, hidup nyaman dengan fasilitas yang ada karena memiliki penghasilan yang cukup besar, dan tentu akan menjadi kebanggaan orang tua.   Seiring kematangan jiwa dan pola pikir yang dipengaruhi lingkungan dan tempat dimana saya tumbuh kemudian pilihan cita-cita itu memudar. Lebih lagi saya diketahui sedikit phobia dengan jarum suntik dan hal-hal yang berbau darah mengucur.   Sederhana saja, dunia suntik menyuntik itu bukanlah something that I love. oke, saya tak akan banyak cerita soal diri, terlalu self-centric nanti. Walaupun ini blog pribadi tentu, sah-sah saja donk saya tulis tentang apa& hehe.   Kembali ke diagram temuan di atas. Sungguh saya sangat setuju, kebahagiaan seorang dalam mengabdikan dirinya pada sebuah profesi dapat terwujud ketika apa yang dikerjakannya itu merupakan irisan dari what you do well, something that you love, something that the world needs dan something that the world pays for.   Kalau sudah seperti ini tentu bekerja seberat dan sesulit apa pun tak akan terasa menjadi beban. Justru memberikan kenikmatan dan sensasi pencapaian yang luar biasa.   Pada kenyataannya, banyak sekali orang yang bekerja justru jauh dari hal-hal yang bisa dikatakan ia sukai dan bahkan ia merasa tidak cukup baik melakukannya namun karena ketidakadaan pilihan lain akhirnya ia tetap jalani. Alasan kelompok orang-orang ini mungkin karena keterpanggilan eksternal yang begitu kuat. Bukan dari dalam. Dan ini pula yang sering memunculkan dilema.   Tarikan eksternal itu diantaranya mungkin karena dorongan dan paksaan orang tua dan lingkungan, atau pun karena cara pandangnya tentang bagaimana ia memandang dan memahami soal atribut kebahagiaan.   Seseorang yang berjiwa seni, terpaksa tetap bekerja sebagai diplomat karena tuntutan kebutuhan untuk memenuhi hidupnya sementara seni yang ia geluti tidaklah mampu menopang kebutuhannya. Apakah kelompok ini pada akhirnya tidak bisa menemukan kebahagiaan dalam meniti peran-peran kerja dalam hidupnya? ah, saya rasa belum tentu.   Baik sebelum kita banyak diskusi lagi, mari kita telaah satu persatu istilah irisan 3 kategori di atas:   Fulfillment: pemenuhan; penyelesaian; pengisian; pengabulan; pengerjaan. Contentment: kepuasaan; kesenangan; kesukaan. Comfort: kenyamanan; kenikmatan; kepuasan; kesenangan. Satisfaction: kepuasan; pelunasan; kegembiraan; penebusan; keyakinan. (sumber: Google translate).   Tenyata dari ketiganya di atas memiliki irisan pengertian yang sama: KEPUASAAN, selain kata “fulfillment” yang diartikan dengan padanaan kata yang sedikit berbeda.    Namun pada buku Rene Suhardono berjudul “Your Job is Not Your Career” justru kata fulfillment juga diartikan  secara harfiyah sebagai KEPUASAAN, ketercapaian, kelegaan atau kelengkapan dalam berkarya.   Sehingga secara mudahnya kesemuanya sebenarnya memiliki makna yang hampir serupa, yaitu kepuasaan dalam bekerja dan berkarya menjalankan perannya masing-masing dalam hidup.   Fulfillment dirasakan oleh seorang engineer RAN saat bisa menormalisasi jaringan selular di suatu daerah dimana tak ada sinyal satu pun dari operator lainnya yang bisa memenuhi kebutuhan komunikasi disaat-saat genting. Perasaan ini juga dirasakan saat seorang manager yang berhasil membimbing bawahannya dalam menuntaskan pekerjaan pentingnya. Atau juga perasaan yang dirasakan oleh seorang penggiat sosial dimana atas bantuan penyaluran infaq dari muzakki yang ia kelola telah mampu memberdayakan dan membuat seseorang menjadi mandiri secara ekonomi.   Baiklah,lebih lanjut mari kita mengutak-atik diagram di atas dengan rumusan matematis dengan sedikit membuat penyederhanaan istilah, maka akan kita dapati istilah:  FULFILLMENT = PASSION + VOCATION = (What you do well + what you love) + (what you love + what the world needs)  = 2x what you love + what you do well + wha the world needs   Sehingga fulfillment sebagai atribut tujuan yang dicapai dalam bekerja di sini lebih di dominasi karena pekerjaan dan peran serta aktivitas tersebut kita CINTAI.   CONTENTMENT = VOCATION + CHARITY = (What you love + what the world needs) + (what the world needs + what the world pays for)   Maka dalam konteks contentment, kepuasaan yang diraih saat bekerja adalah karena lebih disebabkan oleh “sesuatu yang memang dibutuhkan orang”. Ia puas karena karyanya dan perannya diakui karena memang dibutuhkan, selain tetap bahwa ia pun mencintai pekerjaan dan apa saja yang dilakukannya tersebut.   COMFORT = CAREER + CHARITY  = (what you do well + what the world pays for) + (what the world pays for + what the world needs)   Dari penyederhanaan rumusan di atas, orang merasa comfort saat ia bekerja di bidang yang dikuasai, dibutuhkan dan kemudian ia dibayar dengan lebih memadai. Dan poin terakhir ini mendapat porsi terbesar.   SATISFACTION = PASSION + CAREER = (what you love + what you do well) + (what you do well + what the world pays for)   Dari rumusan di atas, kita dapati seseorang bisa memperoleh satisfaction ketika ia bekerja di bidang yang dikuasainya dengan baik, lalu ia pun mencintai apa yang dikerjakan dan kebutuhannya pun terpenuhi secara wajar.   Nah, dari kesemua rumusan tersebut di atas, sesungguhnya orang bisa mencapai tangga dan tingkat kepuasan dalam pekerjaan dan peran-perannya dari banyak sisi. Tidak harus selalu bahwa pekerjaannya itu sesuai dengan passion-nya.   Meski demikian ada perlunya kita mengingat agar “Kerjakan hal yang kita sukai maka tidak ada satu hari pun kita perlu bekerja”.  Karena semua yang kita lakukan seperti saat kita sedang menjalani hobby ataupun hal-hal yang menyenangkan hati.   Dari manapun jalan dan cara kita menuju kebahagiaan dalam berkarya dan bekerja tentu semangatnya adalah bahwa semua itu adalah sebuah journey; perjalanan mencapai YOUR PURPOSE OF LIFE; tujuan hidup kita. Bagaimana dengan Anda?   .:salamSpektakuler:.   (dituliskan kembali dari berbagai perenungan selama perjalanan Pontianak-Sambas 30 April-1 Mei 2012)   

 [99 Ideas for Happy Worker: Jalan Menuju KEPUASAN]

Ada yang menarik dari sebuah blog sahabat di tumblr. Diagram menarik itu kemudian saya gambar ulang dengan gaya khas saya tentu.

 Diagram himpunan irisan yang mengungkap sebuah ide besar tentang “bekerja” tentang “job”, “karir” dan tentu tentang diri kita masing-masing. Diagram ini seperti sedang bercerita pilihan-pilihan hidup, tentang bagaimana seseorang mengisi kehidupan ini dengan perannya masing-masing.

 Belasan tahun lalu (tentu ditambah sedikit beberapa tahun lalu) saya yang masih polos itu seringkali dengan penuh keyakinan menjawab “ingin menjadi dokter!” kala ada yang bertanya hendak jadi apa kelak. Alasannya? mungkin sederhana saja: terpandang, hidup nyaman dengan fasilitas yang ada karena memiliki penghasilan yang cukup besar, dan tentu akan menjadi kebanggaan orang tua.

 

Seiring kematangan jiwa dan pola pikir yang dipengaruhi lingkungan dan tempat dimana saya “tumbuh” kemudian pilihan cita-cita itu memudar. Lebih lagi saya diketahui sedikit phobia dengan jarum suntik dan hal-hal yang berbau “darah mengucur”.

 

Sederhana saja, dunia suntik menyuntik itu bukanlah “something that I love”. oke, saya tak akan banyak cerita soal diri, terlalu self-centric nanti. Walaupun ini blog pribadi tentu, sah-sah saja donk saya tulis tentang apa… hehe.

 

Kembali ke diagram temuan di atas. Sungguh saya sangat setuju, kebahagiaan seorang dalam mengabdikan dirinya pada sebuah profesi dapat terwujud ketika apa yang dikerjakannya itu merupakan irisan dari “what you do well”, “something that you love”, “something that the world needs” dan “something that the world pays for”.

 

Kalau sudah seperti ini tentu bekerja seberat dan sesulit apa pun tak akan terasa menjadi beban. Justru memberikan kenikmatan dan sensasi pencapaian yang luar biasa.

 

Pada kenyataannya, banyak sekali orang yang bekerja justru jauh dari hal-hal yang bisa dikatakan ia sukai dan bahkan ia merasa tidak cukup baik melakukannya namun karena ketidakadaan pilihan lain akhirnya ia tetap jalani. Alasan kelompok orang-orang ini mungkin karena keterpanggilan eksternal yang begitu kuat. Bukan dari dalam. Dan ini pula yang sering memunculkan dilema.

 

Tarikan eksternal itu diantaranya mungkin karena dorongan dan “paksaan” orang tua dan lingkungan, atau pun karena cara pandangnya tentang bagaimana ia memandang dan memahami soal atribut kebahagiaan.

 

Seseorang yang berjiwa seni, terpaksa tetap bekerja sebagai diplomat karena tuntutan kebutuhan untuk memenuhi hidupnya sementara seni yang ia geluti tidaklah mampu menopang kebutuhannya. Apakah kelompok ini pada akhirnya tidak bisa menemukan kebahagiaan dalam meniti peran-peran kerja dalam hidupnya? ah, saya rasa belum tentu.

 

Baik sebelum kita banyak diskusi lagi, mari kita telaah satu persatu istilah irisan 3 kategori di atas:

 

Fulfillment: pemenuhan; penyelesaian; pengisian; pengabulan; pengerjaan.

Contentment: kepuasaan; kesenangan; kesukaan.

Comfort: kenyamanan; kenikmatan; kepuasan; kesenangan.

Satisfaction: kepuasan; pelunasan; kegembiraan; penebusan; keyakinan.

(sumber: Google translate).

 

Tenyata dari ketiganya di atas memiliki irisan pengertian yang sama:KEPUASAAN, selain kata “fulfillment” yang diartikan dengan padanaan kata yang sedikit berbeda.

 

Namun pada buku Rene Suhardono berjudul “Your Job is Not Your Career” justru kata fulfillment juga diartikan  secara harfiyah sebagai KEPUASAAN, ketercapaian, kelegaan atau kelengkapan dalam berkarya.

 

Sehingga secara mudahnya kesemuanya sebenarnya memiliki makna yang hampir serupa, yaitu kepuasaan dalam bekerja dan berkarya menjalankan perannya masing-masing dalam hidup.

 

Fulfillment dirasakan oleh seorang engineer RAN saat bisa menormalisasi jaringan selular di suatu daerah dimana tak ada sinyal satu pun dari operator lainnya yang bisa memenuhi kebutuhan komunikasi disaat-saat genting. Perasaan ini juga dirasakan saat seorang manager yang berhasil membimbing bawahannya dalam menuntaskan pekerjaan pentingnya. Atau juga perasaan yang dirasakan oleh seorang penggiat sosial dimana atas bantuan penyaluran infaq dari muzakki yang ia kelola telah mampu memberdayakan dan membuat seseorang menjadi mandiri secara ekonomi.

 

Baiklah,lebih lanjut mari kita mengutak-atik diagram di atas dengan rumusan matematis dengan sedikit membuat penyederhanaan istilah, maka akan kita dapati istilah:

FULFILLMENT = PASSION + VOCATION

= (What you do well + what you love) + (what you love + what the world needs)

2x what you love + what you do well + wha the world needs

 

Sehingga fulfillment sebagai atribut tujuan yang dicapai dalam bekerja di sini lebih di dominasi karena pekerjaan dan peran serta aktivitas tersebut kita CINTAI.

CONTENTMENT = VOCATION + CHARITY

= (What you love + what the world needs) + (what the world needs + what the world pays for)

 

Maka dalam konteks contentment, kepuasaan yang diraih saat bekerja adalah karena lebih disebabkan oleh “sesuatu yang memang dibutuhkan orang”. Ia puas karena karyanya dan perannya diakui karena memang dibutuhkan, selain tetap bahwa ia pun mencintai pekerjaan dan apa saja yang dilakukannya tersebut.

COMFORT = CAREER + CHARITY

 = (what you do well + what the world pays for) + (what the world pays for + what the world needs)

 

Dari penyederhanaan rumusan di atas, orang merasa comfort saat ia bekerja di bidang yang dikuasai, dibutuhkan dan kemudian ia dibayar dengan lebih memadai. Dan poin terakhir ini mendapat porsi terbesar.

SATISFACTION = PASSION + CAREER

= (what you love + what you do well) + (what you do well + what the world pays for)

 

Dari rumusan di atas, kita dapati seseorang bisa memperoleh satisfactionketika ia bekerja di bidang yang dikuasainya dengan baik, lalu ia pun mencintai apa yang dikerjakan dan kebutuhannya pun terpenuhi secara wajar.

 

Nah, dari kesemua rumusan tersebut di atas, sesungguhnya orang bisa mencapai tangga dan tingkat kepuasan dalam pekerjaan dan peran-perannya dari banyak sisi. Tidak harus selalu bahwa pekerjaannya itu sesuai dengan passion-nya.

 

Meski demikian ada perlunya kita mengingat agar “Kerjakan hal yang kita sukai maka tidak ada satu hari pun kita perlu bekerja”.  Karena semua yang kita lakukan seperti saat kita sedang menjalani hobby ataupun hal-hal yang menyenangkan hati.

 

Dari manapun jalan dan cara kita menuju kebahagiaan dalam berkarya dan bekerja tentu semangatnya adalah bahwa semua itu adalah sebuah journey;perjalanan mencapai YOUR PURPOSE OF LIFE; tujuan hidup kita.

Bagaimana dengan Anda?

.:salamSpektakuler:.

 

(dituliskan kembali dari berbagai perenungan selama perjalanan Pontianak-Sambas 30 April-1 Mei 2012)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s