99 Ideas For Happy Worker: Teguran Pak Boss

Kemarin di media ramai soal Pak Menteri yang marah-marah dan membuka kemacetan di sebuah pintu tol. Menarik dan kemudian menjadi perbincangan yang hangat bagi netter, publik dan tentu media.

Sorenya saya pun sempat  menyaksikan tayangan di salah satu stasiun TV yang menghadirkan DIrut PT. JM, dimana juga relay telpon langsung dari Pak Dahlan Iskan yang saat itu sudah berada di Beijing.

Kasihan juga sang Direktur. Ia di-kramas secara langsung dihadapan jutaan pasang mata pemirsa di seluruh Indonesia.

Kritikan dan saran membangun bahkan cenderung menyudutkan meluncur deras dari sang menteri di seberang telpon. Dengan intonasi yang lugas, tuntas, tegas dan khas. Semua argumentasinya sangat beralasan.

Untungnya beberapa kali terputus atas alasan gangguan teknis. Namun tetap saja tiap kali bisa terhubung kembali sang Menteri kembali me-“nasehati” direktur PT.JM yang malang tersebut.

Saya perhatiankan mimic sang diruktur lebih pias dari biasanya. Beberapa kali menelan ludah dan mencoba menguasai diri. Terbayang jika saya yang berada di posisi beliau.

Pernyataan-pernyataan sang direktur kemudian terkesan defensive dan klise, memang. Standar dari orang yang terpojok. Walau dengan hormat saya pun mengakui bahwa sang direktur cukup gentle dan berjiwa besar menghadapi situasi ini. Dan berulangkali menyatakan kesiapannya untuk BERUBAH. Oke. That’s the point.

Dalam situasi seperti ini, kritik dan saran membangun bisa saja menjadi satu boomerang jika object dan subject tidak cukup dewasa menangani dan menanggapinya.

Bagi saya yang jarang menggunakan layanan dan fasilitas JM tentu tidak memiliki user experiences yang cukup.

Namun bagi rekan-rekan di Jakarta tentu soal layanan publik jalan tol ini memang sangat memprihatinkan.

Ada kenaikan tariff berkala, namun layanan sungguh seringkali mengecewakan. Bahkan dibeberapa Negara jika jalan tol sudah BEP (dari biaya pembangunan dan operasionalnya), justru kemudian di gratiskan.

Wajar saja sang menteri berang ketika pengguna masih harus bayar mahal tetapi tetap macet dan layanannya buruk. Bisa dibayangkan ada banyak transaksional yang terhambat atas keterlambatan dan ketidakprimaan layanan jalan raya ini.

Jika kondisi ini kita tarik ke ranah internal dan perusahaan kita tercinta maka setidaknya kita perlu banyak belajar tentang saluran-saluran

Komunikasi dan kritik serta saran membangun ini agar benar-benar konstruktif dan bukan malah destruktif.

Sikap legowo, jiwa besar dan kemauan adalah kuncinya.

Ya… sekali lagi KEMAUAN untuk berubah menjadi satu kata kunci yang kemudian harus diikuti dengan ACTION!

Seribu janji tidak akan berarti tanpa ada satu inchi langkah kecil mewujudkannya.

Selain itu, kritik yang disampaikan juga tentu harus tepat sasaran dan efektif.

Kita mungkin salut dengan gaya authentic Leadership dari Pak DI, ini.  Unik dan tiada duanya.

Sebagaimana juga kita harus respek bahwa ada banyak gaya lain yang mungkin bisa lebih santun dan lembut. Atau bahkan mungkin justru ada yang lebih beringas darinya. J

Sehingga tentu kita sadar gaya atau style dari leader kita dalam meng-gas dan meng-kramas diri kita agar lebih perform bukan menjadi sebuah perdebatan yang menghabiskan energi yang seharusnya kita gunakan untuk melakukan perbaikan yang lebih substansif.

Lakukan saja selama itu adalah KEBAIKAN.

Dan jika ternyata sang pemimpin hanya bisa mengkritik tanpa memberikan keteladanan? Cukupkanlah itu sampai di sana saja.

Dan mari kita belajar agak kelak ketika kita memimpin bisa melakukannya dengan keteladanan dan lebih baik darinya.

 

Wallahu’alam.

.:salam spektakuler:. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s