Ketika Harus M-O-G-O-K

 

bahwa atas setiap hak, ada kewajiban yang harus dipenuhi. Dan bahwa atas setiap kewajiban, ada kebaikan yang menyertai apabila ditunaikan.

 
PaperArtist_2013-10-29_12-25-45
Saat lelah dan mengantuk, disitulah hak tubuh menuntut kita untuk beristirahat sejenak. Saat lapar haus dahaga menyergap, disitulah hak jasad meminta asupan bahan bakar untuk metabolisme dan “pergerakan” seluruh komponen organ tubuh.
 
Demikianlah hak dan kewajiban senantiasa beriringan bagai sebuah koin mata uang bersisi dua. Dimana ada kewajiban maka disitu hak akan menyertai dan sebaliknya.
 
Perusahaan besar biasanya menjadi besar karena: (1) aset dan profit nya besar dan (2) sebagai pengelola sesuatu yang vital. 
 
Sayangnya jika kebesarannya itu kemudian menyebabkan arogansi dan kesewenangan sikap terhadap satu dari sekian hal penting yang selama ini telah membesarkan perusahaan,maka rasa-rasanya hanya akan menunggu masa yang tepat saja untuk “pecah kongsi”.
 
Dalam hubungan industri, pekerja dan pemberi pekerjaan, sejatinya telah diikat dalam sebuah perjanjian kerja bersama yang membentangkan deretan pasal dan poin terkait hak dan kewajiban kedunya. Apa jadinya jika salah satu merasa dikhianati? 
 
Jika pekerja tidak bisa melaksanakan kewajibannya maka hak sebagai karyawan bisa dicabut seketika alias PHK, sedangkan jika perusahaan atau management yang melanggar janji dan tidak melaksanakan kewajibannya apa yang bisa dilakukan oleh karyawan/buruh/pekerja dalam menuntut hak-haknya?
 
Dalam perspektif Islam, bekerja adalah manifestasi ibadah dan amal sholeh sebagai upaya manusia dalam menjalankan fungsi pengelolaan sumber daya yang dimiliki untuk menjamin keberlangsungan hidupnya sebagai khalifah. Dalam proses itu, sifat dan sikap Ilahiyah yang dititipkan dalam diri manusia harus mampu diasah mulai sifat mengelola, sifat merawat, sifat kasih-sayang, sifat keadilan, kebijaksanaan dan sifat-sifat mulia lainnya.
 

Istilah ‘kerja’ dalam Islam bukanlah semata-mata merujuk kepada mencari rezeki untuk menghidupi diri dan keluarga dengan menghabiskan waktu siang maupun malam, dari pagi hingga sore, terus menerus tak kenal lelah, tetapi kerja mencakup segala bentuk amalan atau pekerjaan yang mempunyai unsur kebaikan dan keberkahan bagi diri, keluarga dan masyarakat sekelilingnya serta negara.

Dengan kata lain, orang yang berkerja adalah mereka yang menyumbangkan jiwa dan tenaganya untuk kebaikan diri, keluarga, masyarakat dan negara tanpa menyusahkan orang lain. Oleh karena itu, kategori ahli surga seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an bukanlah orang yang mempunyai pekerjaan/jabatan yang tinggi dalam suatu perusahaan/instansi sebagai manajer, direktur, teknisi dalam suatu bengkel dan sebagainya.

Tetapi sebaliknya Al-Quran menggariskan golongan yang baik lagi beruntung (al-falah) itu adalah orang yang banyak taqwa kepada Allah, khusyu sholatnya, baik tutur katanya, memelihara pandangan dan kemaluannya serta menunaikan tanggung jawab sosialnya seperti mengeluarkan zakat dan lainnya (QS Al Mu’minun : 1 – 11)

Namun ketika ada hak yang dihilangkan, dikecilkan dan menyebabkan kesusahan orang lain, tentu siapapun dia; kita patut untuk mengingatkan, meluruskan dan bahkan memperbaikinya. Islam sendiri hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maka tentu ketidakseimbangan yang terjadi ini mesti dan harus diperbaiki.
 
Lalu bagaimana Islam memandang pekerja yang melakukan mogok kerja dalam hubungan interaksi perjanjian kerja bersama antara dirinya sebagai karyawan dengan management atau institusi tempat dimana ia berkhidmat?
 

 

 
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa” [Asy Syura: 40].
 

 

 “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan” [An Nahl: 126].

 

 

Pendapat terkuat dalam permasalahan ini adalah pendapat yang menyatakan wajib mengambil harta dari orang tersebut sesuai dengan hak orang yang dizhalimi, baik harta itu sejenis dengan harta yang dizhalimi ataukah tidak sejenis namun harus proporsional, yaitu dengan cara menjual harta tersebut terlebih dahulu baru hak orang yang dizhalimi ditunaikan. Jika ada kelebihan, maka dikembalikan kepada pemilik harta atau ahli warisnya. Jika kurang dari hak orang yang dizhalimi, maka hal itu tetap menjadi tanggungan pihak yang menzhalimi dan statusnya tetap demikian hingga pihak yang dizhalimi merelakan (memaafkan) atau ada pihak lain yang menanggung.

 

Dalil yang mendukung pendapat ini adalah firman Allah ta’ala:

Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka [Asy Syura: 41].

Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri [Asy Syura: 39].

Dan pada sesuatu yang patut dihormati , berlaku hukum qishaash. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu [Al Baqarah: 194].

 

Adapun dalil dari hadits seperti sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hindun, istri Abu Sufyan, ketika ia tidak mendapatkan nafkah yang layak:

 “Ambillah hartanya yang dapat mencukupi kebutuhanmu dan kebutuhan anakmu secara proporsional”. Beliau memerintahkan demikian karena Hindun berhak memperoleh nafkah dari suaminya.

Pendapat ini didukung oleh hadits “tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim dan yang dizhalimi”. Perintah dalam hadits ini jelas mewajibkan untuk menolong pelaku kezhaliman dengan mengeluarkannya dari kezhaliman yang dilakukannya dan hal itu dapat terealisasi dengan mengambil harta yang telah diambil dari pihak lain secara zhalim.”

Maka tindakan di atas dapat dilakukan jika tidak menimbulkan kerusakan yang sebanding atau lebih besar daripada maslahat yang ada. Jika menimbulkan kerusakan (yang sebanding atau lebih besar daripada maslahat), maka tindakan tersebut tidak boleh dilakukan berdasarkan kaidah dar-u al-mafasid aula min jalbi al-mashalih (menolak bahaya lebih diprioritaskan daripada memperoleh manfaat).

 
wallahu a’lam.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s