Gadget untuk Hidup?

Perkembangan teknologi memang begitu evolutif, erektif, bahkan eksplosif. Aarrgh,apalagi ini maksudnya… 

 
ok, ok… mari kawan kita duduk sejenak membicarakan fenomena yang cukup menyentil syaraf usil saya sehingga harus saya abadikan dalam blog sederhana ini.
 
Secara harfiah sebagian dari kita beranggapan teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru, yang dengannya pekerjaan dan aktivitas kita menjadi lebih mudah. Singkatnya teknologi menjadikan hidup kita jauh lebih mudah, efisien dan produktif. Dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memang telah begitu mengubah wajah dunia kita saat ini. Betul?
 
Hidup kita tak bisa lepas dari piranti elektronik atau lebih beken kita sebut gadget—yang membuat hidup kita more easy, efektif dan tentu produktif. 
 
Tunggu-tunggu dulu, apakah benar memang menjadi more easy? aah, mari kita kumpulkan fakta-fakta yang tersebar di jagad hidup kita, Kawan.
 
Punya gadget tentu sah dan tidak salah. Gadget adalah pelengkap  dengan  fungsi melengkapi kehidupan  profesional dan keseharian anda. Kesalahan terjadi apabila gadget beralih fungsi menjadi  esensi dalam hidup. Esensi hidup adalah hal-hal yang bisa menjadi satu alasan mendasar kita untuk antusias dalam menjalani hidup, terkait tentang value, purpose of  life dan pencapaian hidup/filfullment serta kebahagiaan/happiness.
 
Naif jika kemudian hidup kita hanya dinilai dari gadget yang kita genggam, dimana kebahagiaan kita terukur dari punya atau tidaknya sebuah gadget dalam kantong atau tas kita. Betapa seringkali gaji kita hanya habis untuk memenuhi kebutuhan prestige atau gengsi semata. Jadilah kita sebagai budak gadget. Hidup untuk gadget, bukan gadget untuk hidup.
 

gadget mania (1)

Kejadian kocak seperti yang dialami dalam ilustrasi “chicken strip” di atas sepertinya tidak asing bukan? hehe. 
 
Memang sih, zaman sekarang  HP biasa senantiasa ada di saku atau di genggaman. Mulai dari anak SD sampai tukang becak sudah tak asing lagi dengan piranti satu ini. Satu orang bisa saja memiliki lebih dari satu buah telpon genggam, dengan alasan sebagai cadangan dengan operator yang berbeda, jaringan yang berbeda atau memang saluran yang khusus dimana dibedakan untuk kepentingan bisnis/profesional dengan untuk keperluan pribadi. Toh semua sah-sah saja koq.. iya to?
 
Lebih baik ketinggalan dompet, daripada ketinggalan telpon genggam bukan? 
aha..
 
Masalahnya adalah seringkali kita terlalu impulsif, gagap dan latah ketika produsen piranti berlomba-lomba mengeluarkan varian-varian dan gadget-gadget terbarunya. Bagai seekor sapi kita tercucuk hidungnya, tak berdaya terbawa arus “keinginan” untuk membeli dan membeli. Smart shopper akhirnya memang jauh dari panggangnya. Kasihan kan?
 
Nah, berikut ini ada tips dan rambu-rambu yang bisa sama-sama kita terapkan dalam diri. Monggo dilengkapi kalau ada yang kurang.  Point-point ini saya ambil dari pengalaman empiris.  Dan gadget itu sendiri sebenarnya tidak menyempit hanya bersoal tentang telpon genggam saja. Ini merujuk pada definisi gadget dari wikipedia yang menyebutnya sebagai berikut:
 
A gadget is a small technological object (such as a device or an appliance) that has a particular function, but is often thought of as a novelty. Gadgets are invariably  considered to be more unusually or cleverly designed than normal technological objects at the time of their invention. 
 
 
1. Be Who You Are
 
Ini adalah langkah awal agar kita bisa menjadi smart shopper. Kenali diri anda sebaik mungkin, apa passion Anda, apa hobby Anda, what is your purpose of life—semacam self awareness. Lalu jadilah Anda apa adanya—be yourself. Tetapkan apa kekuatan anda, kelemahan dan visi-misi hidup anda. (Backsound: cuma sekedar beli gadget aja koq, ribet banget sih!) 
 
(Tunggu dulu) Karena memilih gadget dan memilikinya itu bisa saja seperti kita memilih pasangan hidup kita. Bagaimana tidak, gadget sering kali lebih intim bersama kita dibanding dengan pasangan hidup kita, wkwkwkw. Bangun tidur kadang yang dipegang gadget dulu? (backsound: hayyooo ngaku)… atau kadang nggak lepas dari genggaman dan jadi sahabat setia mana kala kita sedang di dalam “bilik termenung”. Nah loh! 
 
Ini juga terkait soal bagaimana menyesuaikan diri dengan kebutuhan (bukan keinginan), misalkan kalau cuma hanya untuk menelpon dan sms-an kenapa harus beli smartphone? Kalau gaptek soal social network dan messager services kenapa ingin beli blackberry? Atau buat apa beli laptop kalau hanya untuk main game? dst… 
 
Nah setelah selesai mendefinisikan “who you are” maka kemudian kita bisa tentukan gadget apa yang pas untuk kita, sehingga gadget tersebut pada akhirnya memang “kamu banget!” atau setidaknya jadi more usefull —sesuai dengan kebutuhan.
 
 
2. Multi fungsi Multi manfaat
 
Syarat kedua ini tentu sejalan dengan prinsip gadget yang memang dibuat untuk memudahkan aktivitas dan keperluan kita. Maka carilah perangkat yang memiliki fungsi ganda berlipat-lipat sehingga penuh manfaat untuk banyak keperluan anda. Satu benda bisa sebagai alat navigasi, alat komunikasi, dan bahkan perantara transaksi keuangan. Mengapa tidak? 
 
Bagi anda yang suka traveling dan menulis, maka piranti gabungan antara kamera dan notebook bisa menjadi pilihan. Untuk menentukan gabungan-gabungan fungsi-fungsi piranti yang bisa kita gabungkan coba buatlah semacam daftar singkat yang kemudian bisa kita kelompokkan sehingga memudahkan kita menentukan gadget apa yang pas untuk kita. 
 
Perlu diingat bahwa fungsi-fungsi ini tentu akan ada yang dominan dibanding yang lain—yang bersifat komplementer atau sebagai pelengkap saja. Sehingga kita perlu memberikan prioritas sesuai dengan kebutuhan. Contoh ekstrimnya misalkan kita mau telpon yang bisa sebagai kamera atau kamera yang bisa untuk menelpon.. .dst.
 
Hal ini juga untuk mensiasati keterbatasan budget Anda! 
 
 
3. Cukupkan 4, 3, 2 atau 1 saja
 
Setelah kita bisa me-list kebutuhan fungsional dan memberikan prioritas, maka langkah selanjutnya adalah membatasi jumlah. Ini tentu bagi anda yang memiliki kelebihan uang misalkan dimana masalah budget tidak menjadi ganjalan. Cukupkan 4 saja maksimal, syukur-syukur bisa 3, 2 atau bahkan 1 saja. Satu alat untuk semua kebutuhan fungsional anda sebagai homo modernis. Wow, keren!
 
4. Simple is the best
 
Setelah rumus ke-3 maka kita bisa naik grade untuk makin memantapkan bahwa gadget itu mesti simple, compact dan user friendly. Jika perlu One for all and all for one. hehe.. 
Idea note_20130111_221322_01(1)
   
5. Life-Time Forever Lasting
 
Ini adalah cara kita agar bisa menghargai dan memanfaatkan gadget sebagaimana mestinya. Pakailah sampai rusak, jebol dan out of date. Jangan buru-buru ganti gadget hanya demi mengejar gengsi atau keinginan impulsif. Pikirkan masak-masak jika hendak mengganti gadget. Kalau memang sudah kebelet untuk ganti, maka ceraikanlah baik-baik gadget Anda. 
 
Agar manfaatnya bisa tetap terasa, cobalah jual kembali dengan harga terbaik sehingga tentu Anda akan mendapatkan cash back untuk bisa membeli gadget baru. Atau berikan kepada seseorang yang membutuhkan sehingga nilai manfaatnya bisa tetap mengalir, misalkan kepada adik, istri/suami, kakak atau sahabat dekat Anda. 
 
Demikianlah, tips-tips agar kita proporsional dan smart dalam memanfaatkan gadget kita. 
 
Sekali lagi: Gadget untuk hidup bukan hidup untuk gadget!
 
.:salam sapa dan senyum:.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s