Tales from Engineer’s Journey: The Spiritual Transmission Factor

rumus empiris ala engineer abal-abal
rumus empiris ala engineer abal-abal

13 Feb 2010

5  tahun berkutat dengan piranti telekomunikasi, terutama radio transmisi terresterial membuat saya akhirnya kemudian dijuluki Ki Mbaurekso (jawa, terjemahan bebas: Sang Penjaga). Seolah dianggap jago dan paling mumpuni… padahal…

hics.. 5 tahun berkutat di bidang yang sama justru makin menyadarkan diri ini bukanlah apa-apa. Ilmunya tak lebih dari setetes air di ujung jari yang mencoba menyelup di luas samudera tanpa batas. Tetesan akhirnya, itulah ilmu yang dimiliki.

Belakangan saya pun sadar, inilah diri seorang engineer mumet itu. hehe…

Learn by doing dan learn by experience telahmenjadi sarana pembelajaran yang paling efektif.

Dari aktivitas langsung yang bersinggungan dengan problem sebuah perangkat-lah saya bisa  mendapatkan sebuah “big picture” dari system perangkat transmisi.

Kehandalan dari perangkat transmisi yang diibaratkan sebagai jalan penghubung transportasi dari satu site ke site lain tersebut, sering diukur dari seberapa lama outage services yang terjadi dalam suatu rentang waktu tertentu sehingga berdampak sistemik pada jaringan telekomunikasi seluler secara menyeluruh. Semakin kecil—atau bahkan zero outage services sebuah perangkat transmisi, maka perangkat tersebut dikatakan semakin handal.

To = C[a,m] + H[i,o] + S[f,e] + he

Sebagai tukang reparasi, secara empiris saya kemudian mendapatkan rumusan yang bisa menyebabkan system perangkat mengalami outage. Jadilah deretan fungsi matematis di atas sebagai sebuah formula yang kemudian mengantarkan saya pada posisi begitu lemah dan tak memiliki kapasitas sama sekali dibandingkan dengan ke-Maha Luas-an ilmu-Nya.

To = duration/time outage, kondisi dan lamanya perangkat mengalami inservice/outage.

C[a,m] = fungsi konstanta di luar kuasa manusia, terdiri faktor a=alam/kondisi propagasi, cuaca, hujan, angin dll, m=musibah, force major atau bencana alam.

H[i,o] = fungsi Hardware. Terdiri dari faktor i=indoor device unit, dan o=outdoor device unit.  Fungsi ini dipengaruhi dari keterbatasan perangkat dan piranti elektronika yang memiliki daya tahan dan karakteristik yang berbeda-beda. Sebagai sebuah produk akal manusia  piranti keras maupun piranti lunak dari sebuah system tentu tidak ada yang sempurna.

S[f,e] = fungsi supporting. Terdiri dari faktor f=antenna support, mounting, fix strut. Sedangkan e=environment, seperti: suhu/temperature ruang, power supply, grounding system dll.

dan yang terakhir adalah faktor  he, human error. Bisa internal maupun ekternal. Biasanya disebabkan oleh kesalahan prosedur, keteledoran maupun dalam bentuk interference dari network lain. masalah interferensi frekuensi setidaknya bisa jadi disebabkan kesalahan dalam proses perencanaan dan survey RFI maupun memang ada pihak-pihak yang dengan sengaja atau tidak sengaja melakukan interfensi pada gelombang frekuensi yang sama.

 

Betapa pun kita sebagai planner maupun sebagai operator perangkat telah melakukan upaya dan langkah-langkah antisipasi, atau bahkan menyisihkan margin yang besar sebagai kompensasi menghadapi fading, atau hal-hal lain,.. selalu saja ada faktor X yang memang diluar kuasa kita dalam melakukan penjagaan setiap perangkat agar tetap bisa berfungsi dengan baik.

terlebih lagi faktor alam begitu dominan terhadap realibility dari perangkat transmisi ini.

Maka kemana kita senantiasa melangkah, disanalah kita akan menjumpai wajah Kebesaran-Nya.

Semoga sinyal kalbu kita selalu bisa terjaga menangkap sinyal-sinyal Rahmah-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s